Posted by: awidyarso65 | 26 July 2009

KEN DEDES, WANITA UTAMA DARI DESA PANAWIJEN

Sepenggalan kisah dari jaman Singasari

….. kengkis wetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Angrok …. (Sebuah kutipan dari Pararaton yang artinya: …. tersingkap betisnya, yang terbuka sampai rahasyanya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok ….)

Arca Wajah Ken Dedes

Arca Wajah Ken Dedes

            Ken Angrok memang tidak sengaja ! mungkin semua terjadi karena kehendak dewata. Saat Ken Dedes yang sedang hamil muda duduk bercengkerama dengan suaminya, di taman Boboji, secara kebetulan Ken Angrok yang sudah bekerja di Tumapel mendapat angin baik; angin penyingkap kain istri sang Akuwu, hingga menyingkap terlihat betis dan paha, bahkan sampai jauh ke ujung yang disebut dalam kitab Pararaton sebagai “rahasianya” Ken Dedes. Penulis kitab Pararaton ketika itu tentu amat menghargai Ken Dedes, sehingga dengan gaya eufemistis mengguratkan kata “rahasianya” untuk menjelaskan suatu keterangan yang bersifat pribadi.

            Nyala “rahasianya” Ken Dedes itu yang bikin Ken Angrok pusing. Pemuda ini tahu apa arti “rahasianya” wanita, namun nyala “rahasianya”Ken Dedes membuatnya gundah gulana. Ken Dedes kembangnya kraton Tumapel asal desa Panawijen. Kecantikannya sempurna, tak ada wanita yang menyamai keindahan paras muka dan tubuh Ken Dedes yang semok dan menggairahkan menurut Pararaton. Kasmaran sira Ken Angrok tan wruh ring tingkahira …. jatuh cintalah Ken Angrok, tak tau apa yang akan diperbuatnya.

            Angrok yang kasmaran dan penasaran, langsung menanyakannya pada pendeta Loh Gawe, asal India yang juga Bapak angkatnya. “Bapak Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya,tanda perempuan yang bagaimanakah? Tanda buruk atau baik?”  Dang Hyang menjawab: “Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya nariswari. Ia adalah perempuan yang paling utama. Meskipun orang berdosa, jika memperistri perempuan itu, ia akan menjadi maharaja”. Ken angrok tertegun dan kemudian berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu adalah istri sang Akuwu di Tumapel. Jika demikian Akuwu akan saya bunuh dan saya ambil istrinya. Tentu ia akan mati, itu kalau Bapak Dang Hyang mengijinkan. Loh Gawe menjawab, “Ya, tentu matilah, Tunggul Ametung olehmu. Hanya saja saya tak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta. Batasnya adalah kehendakmu sendiri”.

***

            Angrok pergi menemui Bapak angkatnya yang lain, Bango Samparan dan disarankan untuk memesan keris ke Mpu Gandring yang sakti dan bisa menusuk tembus Tunggul Ametung. Angrok menanti, dan mengambil keris pesanannya setelah membunuh Mpu Gandring si pembuat keris. Keris sakti dipinjamkan kepada kawannya, Kebo Ijo, untuk kambing hitam membunuh sang Akuwu. Ditengah malam pulas, Angrok membunuh Tunggul Ametung, Kebo Ijo yang dituduh karena semua orang mengira keris itu milik Kebo Ijo. Untuk menghilangkan jejak, Kebo Ijo langsung dibunuh Ken Angrok ketika tidur pulas setelah mabuk. Untuk melampiaskan dendam cintanya, Angrok langsung mengawini Ken Dedes yang sedang hamil tua. Di masa ahir hayatnya Angrok juga korban keris yang dilaknat oleh pembuatnya itu.

            Ken Dedes memang nariswari (utama). Gadis desa Panawijen, di lereng timur gunung Kawi, putri pendeta Budha, Mpu Parwa, sejak remaja memang sudah ditakdirkan hidup dan menerima karunia sekaligus nestapa. Ketika disunting Tunggul Ametung, sebenarnya Ken Dedes lebih tepat diculik dan dikawin paksa dari pada dilamar dan dibawa ke rumah calon suaminya. Mpu Parwa ketika itu tengah bertapa, Tunggul Ametung tak sabar menanti lama-lama. Ken Dedes dilarikan ke Tumapel diperistri tanpa restu mertuanya.

            Mpu Parwa kecewa dan menumpahkan sumpahnya, “Nah semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil istrinya … Adapun anakku yang menyebabkan gairah dan bercahaya terang, kutukku kepadanya semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar”. Betul juga kenyataannya kemudian. Ken Dedes yang teramat cantik itu juga wanita yang ardanariswari. Siapa saja yang memperistrinya akan menjadi maharaja. Ken Dedes telah dicatat selama hidupnya nglakoni karma amandangi atau bertingkah laku sempurna,tanpa cela dan salah langkah.

            Selain berkah rohani dan jasmani, perilakunya juga luput dari lelakon buruk. Sebagai wanita, Ken Dedes bernasib tidak begitu indah. Dimasa mekarnya kuncup kegadisannya, dia direnggut lelaki setengah tua bak Lutfiana Ulfa di jaman kini, bedanya Ulfa cinta banget dengan Syeh Puji sebagai pria idamannya. Baru merasakan nyamannya perubahan tubuh berbadan dua, suami resminya yang dikatakan amat menyayangi, tahu-tahu dibunuh lelaki yang ia saksikan di depan matanya, tapi tak bisa apa-apa. Di masa hamil tua menjelang persalinan, Ken Dedes harus rela dinikahi Ken Angrok sebagai pendamping baru di purinya. Pararaton mengkisahkan antara Ken angrok dengan Ken Dedes adalah memang jodoh yang disetujui dewa-dewa, dan memang sudah lama saling naksir.

***

            Ken dedes yang sampai akhir hayat menjadi permaisuri di Singasari,juga menjadi ibu suri dari beberapa putra-putri, termasuk anak lelaki tunggal, Anusapati, putra dari Bapak biologisnya Tunggul Ametung. Karena merasa diperlakukan berbeda dengan para saudaranya di keraton, maka bertanyalah Anusapati pada ibunya, dan Ken Dedes terpaksa membuka rahasia lama perihal matinya Tunggul Ametung. Ken Dedes tak kuasa melawan kehendak dewata waktu Anusapati meminta keris Mpu Gandring. Ken Dedes hanya merasakan kutukan yang akan menimpa diri Ken Angrok. Ken Dedes kemudian harus menahan rasa kewanitaannya ketika Anusapati mati pula ditembus keris Mpu Gandring oleh Toh Jaya, putra tiri dari istri ke dua suaminya.

Arca Prajnaparamita

Arca Prajnaparamita

            Dalam sejarah dicatat keturunan Ken Dedes dari benih Tunggul Ametung jauh sampai ke cucu-cicitnya. Juga dari benih Ken Angrok, Ken Dedes memberikan putra-putrinya, cucu dan keturunannya. Sampai digaris keturunan ke empat, terjadi penyatuan antara keturunan Ken Dedes dari darah Ken Angrok dengan keturunan Ken Dedes dari darah Tunggul Ametung. Peristiwa ini kita ketahui dari pernikahan Raden Wijaya dengan dua putri Kertanegara, yang tercatat sebagai manusia-manusia tangguh dan besar yang meneruskan tradisi kerajaan, bukan di Singasari lagi namun raja besar dalam sejarah Indonesia kuno …. Majapahit. Tidak ada keterangan yang pasti kapan istri Tunggul Ametung dan Ken Angrok ini menutup ajal. Padahal dari rahim Ken Dedes inilah telah menurunkan raja-raja besar Majapahit, dinasty Rajasa, termasuk Kertanegara dan Hayam Wuruk.

            Nama besar Ken Dedes selalu muncul dalam tafsir masyarakat jaman dulu dan kini. “Ini candi Ken Dedes, patung batu yang ada di museum, itu patung Ken Dedes”, begitulah soal candi di Singasari dan arca Prajnaparamita. Terkadang tampa sadar, orang masa kinipun lebih mengagumi Ken Dedes yang cantik. Beberapa rekan saya bahkan membandingkan kecantikan Manohara dengan kesempurnaan paras Ken Dedes. Wanita dari Panawijen itu adalah perempuan utama dan penurun raja-raja besar Jawa Timur di masa lampau.

            Arca Prajnaparamita sebagai puncak maha karya seniman patung di jaman Singasari, temuan di candi kecil tak jauh dari candi Singasari-Malang, dianggap perwujudan Ken Dedes! Prajnaparamita adalah nama dewi yang sejajar dengan dewa-dewi lainnya. Perwujudannya sangat cantik, dianggap sebagai dewa ilmu pengetahuan, karena diarcanya terdapat sulur teratai yang menanggung keropak atau kitab. Wujud arca Ken Dedes dalam tafsir masyarakat pengagumnya disamakan dengan dewi Prajnaparamita. Mungkin sudah nasib Ken Dedes, tetap baik citranya dimasyarakat hingga kini. Namanya dipuja dan wujudnya disamakan dengan dewi Prajnaparamita. Arca Prajnaparamita itu ditatah pemahatnya delapan abad silam, pernah lama terlantar, ditemukan direruntuhan candi kecil dekat candi Singasari, kemudian diboyong ke Belanda, dan dikembalikan ke Indonesia tahun 1978.

Sumber:

1. Hardjowardojo Pitono. R. Drs, Pararaton, Bhatara, Djakarta, 1965.

2. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr., Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.

3. Kompas, “Wanita Utama dari Singasari, Ken Dedes”, 1989.


Responses

  1. bagi saya peran guru bagi siwa sangat penting karena guru merupakan ortu ke-2,jadi perkembangan ESQ,IQ peran guru juga sangat membantu, guru juga jadi tempat curhat bagi siswa yang bermasalah

  2. Terimakasih atas informasinya, saya sangat mengagumi sosok Ken Dedes,, yang juga dijuluki Sang Ardhanareswari atau Sang Ardhanaiswari…

  3. trims as infox… saya sangat mengagumi sosok ken dedes .. dmasa yang lampau begitu luhur budi sangat jauh dg wanita di era sekarang dan saya sangat.. prihatin!!!

  4. terima kasih pak Ardy…..
    artikel nya bagus sekali, saya baca dan kagum sejarah ini terutama Ken Dedes yang begitu cantik sempurna namun tetap mempunyai pribadi dan prilaku yang halus budi serta terpuji. Sebuah keteladanan yang patut di renungkan.
    Semoga bangsa Indonesia sanggup memelihara khasanah budaya dan tradisi yang beraneka ragam ini….

    salam hormat,

    hendry

  5. saya sangat bernafsu untuk mengetahui lebih banyak, tapi hanya sampai disitu yang bisa kita ketahui. dan tidak ada cukup peninggalan yang memadai. tetapi tulisan diatas adalah tulisan yang bagus

    Terima kasih atensi dan pujiannya Mas.
    Ardy.

  6. kadang kita juga perlu peta, dimana panawijen, sekarang jadi apa, apa hubungannya dengan candi jago dlsb, dlsb

    Tentu akan lebih baik jika pemetaan sejarah klasik kita dapat segera dilakukan ya Mas?! ….. Panawijen mungkin kini dapat kita letakkan di sekitar wilayah lereng gunung Arjuno (apakah kini desa itu disebut/dikenal dengan nama Polowijen?) ….. hmmm….. silahkan penuh selidik.
    Salam.

  7. hmm menarik dan erotis sejaarah ken dedes ini. kalo aku sutradara [yg punya uang sendiri] segera ku jadikan filem…

    kendati demikian aku merasakan budaya jawa [kuno] terlalu bergantung pada pengaruh budaya hindu…kalo kisah ini benar maka india melalui loh gawe dan informasi-nya ttg ‘nariswari turut ‘bertanggung jawab’ atas lahirnya kerajaan majapahit kelak menjadi RI…kok rada kayak sinetron ya sjarah negeri ini…

    Silahkan memaknai sejarah dari pandangan yang bebas ….. tentu demi kebaikan.

  8. sblumnya mkC,,
    di sni sya bisa mgtahui dan lbih bisa mencerna dg mdah dri pa yang sdah di smpaikan dri ketrgnn di atas.

    bisa mnjdi acuan sya jga utk mndalami dan mempeljari lge…

  9. Sejauh ini Kanjeng Ibu Ken Dedes adalah sosok yang menurunkan Raja2 sampai periode Mataram baik Solo maupun Yogya…..
    semoga keturunannya juga yang akan membuat Nusantara Mercusuar Dunia 3/ 4 tahun mendatang…….

  10. Bagus banget artikelnya Bung..
    Saya sangat kagum dengan sosok Kendedes, sampai-sampai nama Beliau kujadikan sebagai nama butikku..Semoga butikku mendapat berkah amandangi atau bertingkah laku sempurna,tanpa cela dan salah langkah seperti karma yang dilakoni untuk Kendedes

  11. waaaah terima kasih pak ardy.
    saya mau share ke anak-anak informasi ini. Cerita ini kayaknya tidak habis-habisnya yaaaaa?
    Terima kasih juga karna pak ardy sudah membantu memberikan informasi yaaaaanggg sangaaat banyak tentang mata pelajaran ini, bravo
    Jangan bosan-bosan untuk berkarya.

    Salam
    Syane

  12. pak ardy maaf kalo menyela, apakah benar cerita keris gandring ada dalam pararaton atau cuman dongeng belaka? mungkin okelah kematian keturunan dedes-arok-ametung saling menggulingkan tetapi apakah mereka mati dg kering mpu gandring dan terdapat pada pararaton? Saya masih menyangsikan krn belum pernah baca/terjemahan pararaton. Kl dlm karyanya Pram Arok-Dedes lebih rasionalis.

    salm kenal

    win

    Mas Win,
    Anda luar biasa hingga menanyakan detail.
    Rupanya pemerhati sejarah dan ‘mungkin’ pernah/sedang belajar sejarah ?
    Sumber utama mengenai Ken Arok dan mengagung-agungkan tokoh ini adalah PARARATON …. bahkan dikenal dengan ‘katuturanira KEN AROK’. Karenanya banyak ahli sejarah agak/bahkan menyangsikan kebenarannya. Berkenaan dengan pertanyaan Anda, apakah benar ‘coup de etat’ saling bunuh berebut tahta singasari dengan menggunakan keris Mpu Gandring ? ….. Logika sederhananya pada masa itu, keris adalah senjata yang senantiasa ditempatkan di sekitar pinggang petinggi dan juga symbol ‘kegagahan’ atau hingga keagungan… namun apakah kematian-demi-kematian akibat keris yang sama ? belum ada yang pernah menyelidiki dan membuktikan. Intinya, peng-agungan Ken Arok begitu kentara dalam kitab itu dan agaknya kita harus hati-hati dalam menarik kesimpulan.

    Demikian pandangan saya, semoga Mas Win maklum.
    Salam,
    Ardy

  13. ty pak penjelasanya!

  14. Pak, keren lo artikel ken dedes nya…..

  15. selama ini saya mengira kendedes berasal dari kediri.
    ternyata dari lereng timur gunung kawi tho…

    Iyo Mas….
    Itu keterangannya dari “Katuturanira Ken Angrok” atau Pararaton…..
    Selamat terus mengomentari kartun dan foto.
    Ardy

  16. mas ardy artikel.nya menarik. Dimana sekarang letak kubur ken dedes dan yg saya ingin tau dimana posisi keris mpu gandring skr ianya dimusiumkan atau hilang

    Informasi tentang kubur Ken Dedes tidak pernah diketahui. Saya pribadi memperkirakan Ken Dedes tidak dikuburkan, tetapi diperabukan (dicandikan) karena tradisi kuno masa Hindu memperabukan jenazah ….. Dan keris Mpu Gandring juga tidak ada yang pernah mengetahuinya …..

  17. Apakah masih ada keturunan ken dedes hingga sekarang ?

    Buat Karina :
    Saya yakin pasti masih ada …..

  18. Bagus sekali pak ilustrasinya. Saya sendiri juga penggemar berat cerita Ken Arok dan Ken Dedes. Saat ini saya baru mengoleksi 3 buku karangan Wawan Susetya, Denny Novita-Narno Nadias, dan tentunya Bapak Pramoedya Ananta Toer. Apa bapak punya saran buku lain yg bagus mengenai Arok Dedes? Atau mungkin satu buku yg isinya terjemahan dari kitab Pararaton itu sendiri? Thanks pak and keep up the great work! :)

  19. Saya penggemar Ken Dedes dan selalu berkhayal sebagai Ken Dedes… makasih tulisannya semakin menambah keyakinan..saya mirip ken dedes ,,,

  20. Posting bpk sungguh menarik.. Suwun atas infonya, Hingga kini siapakah keturunan ken dedes yg menurut pak ardy mashur?

    Jawab: Raja Singasari Kertanegara dan Raja Majapahit ke 3 Hayam Wuruk.

  21. selama kita hanya berpikir dengan gaya ilmiah barat tentu pendapat pararaton amat disangsikan. namun secara tradisonal saya percaya hal itu.

  22. Mungkin saja Ratu Laut selatan Nyi Roro kidul, jelmaan dari kendedes


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: