Posted by: awidyarso65 | 16 May 2009

Lamunan Togog tentang PEMILU dan presiden pilihannya

Togog

Togog

Orang Jawa yang kurang mengenal wayang menggambarkan tokoh wayang Togog sebagai gambaran yang merujuk pada masyarakat kebanyakan, (grassroot = kawulo alit = wong cilik), nggak ngertian (ora Jowo = tidak Jawa) dengan tata krama agak konyol “preman” , dan konon dipersonifikasikan sebagai manusia bukan “Jawa”. Anehnya dengan segala keterbatasannya, termasuk soal kemampuan akademisi, di jaman “kolobendho” dia (baca=Togog) berani mengeluarkan segala pandangannya yang mungkin saja ngawur sebagaimana uraian di bawah tentang bagaimana dia memandang pemilu legeslatif yang baru lalu dan pilpres yang akan datang, serta bagaimana dia mengkalkulasi pilihannya dalam pilpres yang akan datang. Dasar Togog !!

Pemilu legislatif sudah usai 9 Mei 2009 yang lalu, meskipun meninggalkan banyak masalah dan carut-marut persoalan yang meredusir kepercayaan masyarakat terhadap hasil obyektif pemilu beserta KPU penyelenggaranya. Berbagai permasalahan muncul seperti banyaknya anggota masyarakat yang tidak tercantum dalam DPT sehingga kehilangan hak pilihnya, golput yang membesar ditinjau dari jumlahnya, kecurigaan mark-up suara di beberapa daerah pemilihan, tertukarnya surat suara antar daerah, money politik, dan berbagai kecurangan-kecurangan yang ditengarai masyarakat serta partai politik sebagai suatu yang benar terjadi.

Dari perspektif ilmiah, masyarakat disodori proses fakta statistik yang ditayangkan berbagai media bahwa kajian akademisi dalam QUICK COUNT ternyata dapat dipercaya kebenarannya dan sahih. Meski terdapat perbedaan angka antara perhitungan manual KPU dengan hasil Quick Count, namun secara ilmiah margin yang demikian hasilnya itu sudah memberi gambaran ke depan bahwa lembaga-lembaga survey Quick Count tersebut bisa diandalkan dan dipercaya kredibilitas keilmuannya.

Apapun hasilnya, bagaimanapun prosesnya, pemilu legislatif lalu telah mendapatkan ketetapan oleh KPU. Ada bahkan banyak yang kecewa dan complain, ada pula yang menerima hasil keketapan itu. Yang kecewa berbondong-bondong mengadukan “kecurangan pemilu” menurut pandangannya, ke Mahkamah Konstitusi. Beberapa tokoh nasional bahkan ada yang membentuk “barisan” untuk tidak menerima dan mencoba medelegitimasikan pemilu. Ada pula “barisan” tandingan yang menentang pendelegitimasian pemilu. Apapun kiprah para tokoh yang “manggung” di pentas politik itu, faktanya adalah terbentuknya “Peta” baru kekuatan dan konstelasi politik Indonesia yang jika dibandingkan dengan 2004 dan bahkan 1999, sungguh berubah.

Apa yang dapat kita pelajari dari perubahan itu? Perhatikan data di bawah ini.

Hasil Akhir Pemilu Legislatif 2009

Sumber: KPU
Sabtu, 09/05/2009 22:29 WIB

No

Partai Politik

Jumlah Suara

Persentase

1

Demokrat (31)

21.703.137

20,85%

2

Golkar (23)

15.037.757

14,45%

3

PDIP (28)

14.600.091

14,03%

4

PKS (8)

8.206.955

7,88%

5

PAN (9)

6.254.580

6,01%

6

PPP (24)

5.533.214

5,32%

7

PKB (13)

5.146.122

4,94%

8

Gerindra (5)

4.646.406

4,46%

9

Hanura (1)

3.922.870

3,77%

10

PBB (27)

1.864.752

1,79%

Selengkapnya di : Hasil Akhir Pemilu Legislatif 2009         

Fakta yang dapat menjadi pelajaran serta kita ambil dari data di atas antara lain :

  1. Dari 40 partai yang ada dan ikut pemilu yang lalu, rakyat hanya memberikan “kepercayaannya” kepada 9 partai politik saja. Ke 9 partai itu akan meramaikan Senayan sepanjang 2009 – 2014 mendatang.
  2. PDIP dan Golkar yang unggul di tahun 1999 dan 2004 merosot drastis dan pilihan mulai diberikan pada alternatif baru.
  3. Fenomena Demokrat yang berlipat naik 3 kali (hampir 3 kalinya dari 2004).
  4. Fenomena Golput yang tinggi, atau rendahnya tingkat partisipasi rakyat (yang punya hak pilih) dalam pemilu. Jumlah DPT = 171.265.442 sedangkan yang menggunakan hak pilihnya pada 9 Mei 2009 yang lalu 104.095.847 lebih rendah dibandingkan dengan pemilu legislatif 2004. Pada pemilu 5 April 2004, jumlah suara sah yaitu 113.462.414. Terdapat suara tidak sah 17.488.581 (10,21 persen) dan yang tidak menggunakan hak pilihnya sebesar 49.677.076 (29.01 persen). Jadi total suara tidak sah dan yang tidak menggunakan hak pilihnya sebesar 67.165.657 atau 39,26% dari jumlah pemilih terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). Belum lagi ditambah puluhan juta pemilih yang terpaksa Golput karena tidak terdaftar dalam DPT. (sumber KPU)
  5. Partai-partai berbasis Agama (primordialisme) jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya 1999 dan 2004, tetap stagnant tidak mengalami pertumbuhan, bahkan cenderung ditinggalkan.
  6. Partai-partai baru yang didirikan tokoh nasional dari pecahan partai-partai besar yang telah ada sebelumnya, tidak mendapatkan simpati rakyat. Keadaan ini kiranya menjadi pelajaran bagi warga bangsa di masa datang (2014) nggak usah coba bikin partai lagi dech !! Mending masuk gabung dengan partai yang ada.
  7. Prosentase rakyat pemilih jika di hadapkan pada pilihan memilih partai berbasis Agama atau partai Nasionalis, Rakyat pemilih partai berbasis Nasionalis meningkat. Demokrat + PDIP + Golkar + Gerindra + Hanura hampir 65 %. Sementara PKB + PAN + PPP + PKS mengalami penurunan, bahkan PBB ditinggalkan pemilihnya sehingga tidak memenuhi electoral tresshold yang dipersyaratkan. Hanya PKS yang sedikit naik walau gebyar semasa pemilu cukup menjanjikan namun naiknya tidak signifikan.
  8. Kemudian apa hubungan hasil pemilu tersebut dengan pilpres yang akan datang?

Pasal 9 UU No. 42 tahun 2008 menyatakan bahwa: Pasangan Calon (presiden dan wakil preasiden) diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) darisuara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Perolehan masing-masing partai sebagaimana data di atas, serta persyaratan konstitusi yang harus dipenuhi mengharuskan beberapa partai harus berkoalisi untuk mengajukan calon presiden dan calon wakil presidennya. Hanya partai Demokrat yang dapat melenggang mencalonkan capres dan cawapresnya tanpa koalisi. Meski demikian, Jika menginginkan posisi ”aman” dalam pemerintahan ke depan, Demokrat tetap harus berkoalisi memperkuat dukungan di parlemen (DPR).

Koalisi koalisi partai pengusung capres dan cawapres sampai tanggal 16 Mei 2009 menghasilkan pasangan-pasangan : Jusup Kalla + Wiranto yang diusung Golkar + Hanura dideklarasikan di Tugu Proklamasi beberapa waktu lalu; SBY + Budiyono diusung cukup banyak partai diantaranya Demokrat, PKS, PAN, PKB, PPP dan 16 partai kecil lain yang tidak lolos electoral tresshold, yang dideklarasikan tadi malam di Bandung; dan Megawati + Prabowo diusung PDIP + Gerindra yang juga tadi malam di declare di Teuku Umar (kediaman Megawati). Ketiga pasangan capres+cawapres itu perpaduan sipil militer. Megawati, Budiyono, Jusup Kalla dari kalangan sipil dan SBY, Wiranto, Prabowo berlatar belakang militer. Bahasanya, Indonesia masih; harus / perlu / dibayangi / militer …. atau apa ?

Lalu bagaimana aku menentukan pilihanku?

1999 yang lalu Togog memberikan suaranya untuk Megawati …. dan partai PDIPnya Mega memperoleh suara terbanyak ….tapi yang jadi presiden malah Gusdur, meski kemudian digantikan Megawati dan sempat menjadi presiden 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004. Selama pemerintahan beliau banyak kalangan yang menilai pemerintahannya gagal. Banyak Togog Togog yang menilai keberhasilan pemerintahan ketika Megawati menjabat Presiden dengan angka tiga sampai empat. Kini bergandeng dengan Prabowo sebagai calon wapresnya, mungkin saja akan lain…..tapi aku sudah memberi dia kesempatan, namun tidak menjalankan mandat yang kupercayakan untuk cepat merubah bangsa ini.

2004, setelah ternyata pilihanku lima tahun sebelumnya kunilai tidak menjalankan mandat rakyat, maka kuharapkan bintang baru yang muncul mengemuka SBY. Suaraku  ditahun 2004 kupercayakan pada SBY + JK dan menang. Lima tahun masa pemerintahan SBY-JK memang banyak prahara dan rintangan yang berat. Mulai dari Tsunami Aceh, Gempa Jogja dan diberbagai tempat lain, Banjir-tanah longsor serta krisis ekonomi global menyita banyak perhatian untuk terlebih dahulu diurus. Adalah fakta bahwa masalah itu berhasil diatasi. Prestasi yang dicapai dalam berbagai bidang pembangunan sedikit banyak mulai dirasakan, misalnya swasembada beras dalam bidang pertanian, pemberantasan korupsi dan pemberantasan peredaran narkoba dibidang hukum, kemampuan mengendalikan ekomomi tetap bertumbuh meskipun dilanda krisis global, perdamaian Aceh, Poso dan Maluku dibidang keamanan.

Togog adalah masyarakat grassroot yang susah mencari makan untuk hidupnya. BLT meskipun membantu namun hanya bersifat insidental temporer. Togog ingin cepat berubah, setidaknya semua rakyat seperti Togog ingin terpenuhi kebutuhan dasarnya tanpa kekhawatiran esok atau lusa masih bisa makan atau tidak ? Togog tidak perduli dengan swasembada beras, tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi, tidak pula mikir tentang korupsi sebab dia juga adalah korban sistem negara yang korup. Togog juga korban sistem ketidakadilan yang menyebabkan konflik-konflik terjadi. Ada lebih dari 40 juta Togog di negara ini yang setiap harinya lapar dan miskin. Togog meminta KAIL yang membuat dia bisa mandiri, dan bukan BLT. Dari keadaan Togog yang belum berubah juga semasa kurun waktu 2004 – 2009, maka dia menilai pemerintahan yang sedang berjalan dengan angka 6 (enam). Togog yang belum berubah nasibnya itu tidak puas dengan nilai raport average enam. Gurunya togog semasa sekolah dasar memintanya untuk berusaha mencapai nilai di atas delapan. Karenanya di pilpres mendatang Togog tidak lagi menyerahkan suaranya pada calon presiden yang telah pernah dia pilih namun tidak memuaskan perasaan keadilannya sebagai anak bangsa. Dia mempercayakan pilihannya pada calon yang cepat bertindak, tanggap, dan terbukti berani mengambil resiko-resiko tidak populer. Dia yang berpendidikan rendah itu tidak mau lagi terjebak dengan isu sukuisme, sebab memilih pemimpin bangsa bukanlah memilih seorang kepala suku. Primordialisme kesukuan bahwa orang Indonesia harus dipimpin orang Jawa, sudah jauh dari pikirannya yang nJawani sebelumnya. Deraan dan tempaan hidup mencelikkan Togog bahwa siapapun orangnya, apapun suku bangsanya, jika pemimpin itu mampu membawa Indonesia lebih jaya dari masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada di masa Majapahit, “Gemah ripah loh jinawi dan toto tentrem kerto rahardjo” bisa memberikan KAIL bagi Togog-Togog, maka dialah capres pilihan rakyat seharusnya.

Viva Indonesia dan jayalah negriku ……gumam Togog terbangun dari mimpi lamunannya.


Responses

  1. Trims pak, komentarnya di blog….Lamayan buat support, hehe

    Keep writing on Mas Erik ! You have a very good achievement !

  2. Betapa besarnya perhatian togog terhadap hasil pemilu walaupun si togog didn’t get invitation cart from Kpu as you know that togog live in the middle of a junggle far away from even a small village. Anyway this is good writing to be read. Salam hangat dari TPA Bantar Gebang

    Thank you Sir !
    Togogs have a big hope to the next general election. To all our candidates president who elected would care Togog-Togog at Bantar Gebang and all Togog all over Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: