Posted by: awidyarso65 | 15 November 2008

KASODO di bawah “bayang-bayang” Bromo

Mt. Bromo

Mt. Bromo

            Geograf Yunani Herodotus bilang “Egypt is a gift of the Nile river”. Dengan pernyataan itu dia menegaskan determinisme geografi terhadap tumbuhnya perilaku dan budaya manusia. Secara gampang geograf Yunani tersebut ingin mengatakan bahwa Peradaban Mesir dengan Piramid, Spinx, Mummi, Hieroglyph serta berbagai ritual/ceremony dan filosofi of lifenya yang pernah ada itu adalah hadiah sungai Nile (Nile merupakan sebuah keniscayaan. Tanpa adanya sungai itu, peradaban Mesir tidak akan pernah ada/eksis).

Kasodo Ceremony

Kasodo Ceremony

            Dalam pemahaman secara luas, budaya juga mencakup kepercayaan/religi. Herodotus menyampaikan bahwa budaya dalam berbagai bentuknya (bentuk benda, bentuk idee dan bentuk perilaku terpola) adalah hasil interelasi yang dipengaruhi kuat oleh keadaan geografi tempat dimana pemangku budaya itu tinggal. Pemahamannya begini: Masyarakat yang tinggal di pantai dan berinteraksi dengan pantai, akan membentuk “budaya pantai” (baca: nelayan) hasilnya ? = peralatan nelayan = kail, perahu, jala, dayung (benda) ; pengetahuan arah, waktu/musim, jenis ikan serta kapan masa tangkap dan bagaimana cara menangkapnya (idee) ; tarian dan kebiasaan hidup (tingkah laku terpola-nya). Sebaliknya masyarakat yang tinggal di gunung berinteraksi dengan gunung dan menghasilkan budayanya sendiri yang berbeda sama sekali dengan masyarakat pantai.

              Bromo dan Kasodo adalah dua konsep berbeda namun saling terkait. Bromo = konsep geografis sementara Kasodo konsep sosial, budaya dan religi (ritual religi). Nama Bromo berasal dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna yang artinya Brahma, salah satu Dewa Utama Hindu. Masyarakat Tengger meyakini bahwa di gunung Bromo merupakan tempat tinggal para dewa, dan ke gunung inilah mereka pergi memohon pada yang mereka sembah. Ritual Yadnya Kasada memberikan gambaran kepada kita mengenai keyakinan tersebut. Keberadaan ritual Kasodo menurut kisah masyarakat Tengger sebagaimana petikan di bawah ini: (diambil dari Wikipedia)

          Menurut ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa kekuasaan pemerintahan Dinasti Brawijaya dari kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro AnTENG, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta Brahmana bernama Joko SeGER. Ketika Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan dengan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju ke kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger.

Click Video berikut: http://www.youtube.com/watch?v=9za_Zx-a430

            Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”. Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar karuniai keturunan. Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang anak putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

            Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo”. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten, yaitu kawasan lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

            Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Salah satu hasil (berwujud ide/filsafat/perilaku terpola) interaksi masyarakat Tengger dengan gunung Bromo mewujud dalam upacara Yadnya Kasada. Dianggap sucinya gunung Bromo, juga merupakan hasil interaksi manusia dengan keadaan geografis wilayah sekitar. Setiap tahun masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ritual ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

          Keberadaan Bromo mendahului eksistensi Kasodo. Berdatangannya masyarakat ke wilayah Bromo berdasarkan kisah di atas pada masa Majapahit dengan membawa konsep sosial-budaya Hindunya. Melalui interaksi dengan kawasan Bromo, masyarakat yang kemudian menyebut diri dengan nama masyarakat Tengger itu “meletakkan” (baca = “merumahkan”) Dewa Brahma yang mereka bawa ditempat tertinggi dan menamai tempat itu dengan Brahma. Dalam perkembangan kemudian terjadi perkembangan (perubahan) pada aspek bahasa lisannya dan menjadi Bromo. Brahma = Bromo.

  Format pdf download di sini: Di bawah “bayang-bayang” Bromo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: