Posted by: awidyarso65 | 3 September 2008

CANDI

Borobudur

Borobudur

Pernahkah anda berkunjung/wisata ke obyek sejarah ? Banyak orang berasosiasi pikirannya ke candi jika ditanya perihal obyek wisata bersejarah. Tentu bagi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan dengan situs obyek candi, langsung akan menjawab “candi”! Orang/masyarakat Maluku akan teringat benteng peninggalan Portugis atau Belanda. Pun demikian dengan penduduk propinsi Bengkulu bila ditanya dengan pertanyaan serupa. Masyarakat Cirebon, Jogja, Inderapura dan Pontianak yang tinggal di dekat bekas-bekas pusat kerajaan akan menyebut Istana atau keraton. Peninggalan bersejarah berupa candi banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur hanya sedikit yang berada di Jawa Barat dan Sumatra.

Selengkapnya dapat anda baca di : Candi pdf

Meski berdekatan dengan candi, cukup banyak warga ke dua propinsi yang berdekatan dengan candi, tidak mengerti tentang candi. Tulisan berikut sekedar sharing informasi mengenai candi, meski telah banyak tulisan diberbagai media yang mencoba menjelaskan tentang candi secara lebih spesifik.

ARTI CANDI

Wikipedia mendefinisikan Candi sebagai bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama HinduBuddha.  Prof. HJ Krom dan Dr. WF Stutterheim mengartikan candi dari asal katanya CANDIKA. Candika = Dewi maut (di Indonesia dikenal Bethari Durga = Durga Sura Mahesa Mardhani) dan GRHA = GRAHA = GRIYA/GRIYO yang artinya rumah. Jadi Candi menurut mereka adalah rumah untuk bethari Durga = rumah dewi maut. Wujud Ciwa Durga Sura Mahesa Mardhani dapat kita jumpai di candi Prambanan pada Candi Ciwa, pada wujud patung yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Roro Jonggrang.

Ada pengertian yang kedua yaitu dikemukakan oleh Prof Soekmono. Beliau menyebutkan bahwa candi memang masih terkait dengan kematian, namun fungsinya sebagai tempat pemuliaan atau pemujaan raja yang telah wafat dan dibangun setelah 13-14 tahun raja wafat melalui upacara Crada. Peristiwa seperti itu masih berlanjut di Pulau Bali hingga sekarang. Menurut Soekmono dalam penelitiannya disebut bahwa abu yang berada dalam peripih merupakan abu lawe (=benang yang dibuat dari kapuk randu) dan biasanya dipergunakan untuk gelang, kalung atau kendit (ikat pinggang) (ditambahkan oleh Djoko Adi dengan mengutip pendapat Soekmono)

Istilah ‘candi’ tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah dengan bentuk bangunan layaknya bangunan peribadatan saja. Hampir semua situs-situs purbakala dari masa Hindu-Budha atau Klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi.

STRUKTUR CANDI

Secara umum struktur candi dipilah tersusun tiga bagian tegak (vertikal). Bagian kaki candi disebut BHURLOKA melambangkan dunia manusia (dunia bawah=bhumi); bagian tubuh candi disebut BHUVARLOKA melambangkan dunia untuk yang disucikan; dan bagian atap candi dikenal dengan SVARLOKA yang merupakan dunia dewa-dewa.

Pada candi Borobudur (Budha) Struktur kaki terdapat dilapisan KAMADHATU yaitu perlambang dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Relief kisah Kammawibhangga terpahatkan di dindingnya meski hanya beberapa panel yang tampak. Menumpuk di atas lapisan kamadhatu terdapat empat lantai lapisan dengan dinding berelief yang dinamai para ahli arkeologi sebagai lapisan RUPADHATU melambangkan dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan rupadhatu melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pahatan patung Budha di lapisan ini, diletakkan di ceruk-ceruk dinding di atas selasar. Tigkatan paling atas (head) atap candi pada Borobudur disebut lapisan ARUPADHATU = lapisan tidak berwujud. Tingkatan ini berlantai dasar bundar melambangkan alam atas, symbol manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai sorga (nirwana). Patung Budha pada lapisan ini diletakkan di dalam stupa bertutup dengan rongga-rongga berbentuk belah ketupat dan persegi. Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupanya polos tanpa rongga.

Struktur candi Borobudur mengingatkan kita akan konsep awal arsitektur bangunan di masa purba Indonesia berupa punden berundak-undak. Beberapa ahli arkeologi arsitek klasik berpendapat bahwa struktur candi Borobudur mendapatkan pengaruh kekuatan ‘lokal genius’ nenek moyang bangsa Indonesia di masa purba itu.

FUNGSI CANDI

Hampir semua ahli sejarah sependapat bahwa konsep dan arsitek candi berasal dari pengaruh Hindu dari India yang menyebar pengaruhnya hingga ke Nusantara sekitar abad ke 4 hingga abad ke 15. Pengertian pengaruh Hindu di sini adalah untuk menyebut semua bentuk pengaruh yang berasal dari India yang masuk ke Nusantara pada periode yang disebutkan di atas. Pengaruh-pengaruh itu diantaranya agama/kepercayaan Hindu dan Budha dengan tata cara ritualnya, Bahasa dan tulisan (Sansekerta dan Palawa), Konsep kasta dalam masyarakat (stratifikasi sosial), sistem pemerintahan feodal dan arsitektur bangunan.

Dari tempat asalnya, fungsi candi merupakan bangunan suci untuk pemujaan/upacara ritual kepada para dewa. Setibanya di Nusantara fungsi candi tidak hanya difungsikan untuk pemujaan (bangunan suci) tetapi juga untuk tempat perabuan  (baca=kuburan). Dimasa kerajaan Hindu-Budha berjaya di tanah air, jenazah para raja yang diyakini sebagai titisan dewa setelah dikremasi (diperabukan=dibakar) ditanam di candi pada suatu wadah yang disebut peripih. Dalam istilah kuno proses ritual demikian diistilahkan dengan kata dicandikan, artinya dimakamkan di candi.

Sebagaimana kita pahami di atas, bahwa pengertian candi di Indonesia tidak hanya dipakai untuk menyebut peninggalan-peninggalan masa klasik dalam bentuknya seperti bangunan suci tempat ibadah/ritual. Terdapat banyak peninggalan berupa ‘patirtan’ atau tempat pemandian. Tentu saja peninggalan seperti ini dahulu difungsikan sebagai tempat mandi dan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan cuci atau tempat pemandian para putri raja dan kerabatnya. Demikian pula bentuk candi berupa keraton dan gapura. Keraton merupakan tempat tinggal dan pusat pemerintahan raja yang memerintah,dan gapura difungsikan sebagai tempat pintu masuk ke wilyah keraton atau tempat penting lainnya.

PERBANDINGAN CANDI DI JAWA TENGAH DAN DI JAWA TIMUR

Pabila kita perhatikan lebih spesifik, terdapat banyak perbedaan antara candi-candi yang ada di Jawa Tengah dengan candi-candi yang ada di Jawa Timur. Memang ada persamaannya seperti fungsi dan strukturnya secara umum. Perbedaan-perbedaan spesifik candi di kedua wilayah itu diantaranya adalah;

1. Segi bentuk candinya. Secara umum candi-candi yang ada di Jawa Tengah bentuknya terkesan tambun (gemuk) sedangkan di Jatim lebih ramping.

2. Pada pintu (relung pintu masuk) terdapat KALA-MAKARA yang di Jatim jarang dijumpai Makaranya.

3. Relief yang terpahat pada dinding candi-candi di Jawa Tengah adalah relief timbul dengan gaya naturalis sementara pada candi-candi di Jawa Timur sedikit timbul dengan gaya impresif.

4. Di Jateng, candi induk diletakkan di tengah komplek perandian sedangkan di Jatim agak kebelakang.

5. Candi-candi di Jateng banyak yang menghadap ke timur, dan yang berada di Jatim banyak berarah hadap ke barat.

6. Bahan baku pembuatan candi di Jawa Tengah dari batu andesit (batuan vulkanik/batu kali) dan di Jawa Timur sebagian besar terbuat dari batu bata (bata merah = dari tanah liat).

Masih banyak perbedaan-perbedaan yang secara spesifik dapat dikemukakan, namun keenam perbedaan di atas dengan cepat dapat kita perbandingkan.

Anda mulai tertarik dengan candi? Pergi dan pelajarilah. Anda akan banyak memperoleh pelajaran dari masa silam itu. Peninggalan-peninggalan kuno berupa candi banyak berbicara dalam ‘kebisuannya’. Candi-candi itu menggelar fakta-fakta masa lampau yang harus kita ‘baca’ kita ambil manfaat pelajaran yang diperoleh darinya. Kearifan nenek moyang bangsa ini di masa lampau jelas tergurat dalam setiap bentuk pada candi. Filosofi of life masa silam itupun banyak tersiratkan di panel-panel reliefnya.

Selamat ‘berkelana’ ke masa silam anda.

 


Responses

  1. Peradaban bangsa indonesia sejak jaman dulu kala sudah sangat maju. Semoga negeri kita makin maju menyongsong masa depan.

    Setuju Bos !!
    Horas !!!

  2. bagus bgt artikelnya,,, tapi bisa kasih contoh-contoh candi lebih banyak..

    Ika,
    secara khusus akan P’ Guru muat di= http://www.ardywidyarso.wordpress.com
    Silahkan kalau sudah jadi berkunjung ya
    Ardy

    • s7……….

  3. kala-makara itu apa ya…

    Kala = Waktu, tetapi jika berkenaan dengan candi kala divisualisasikan sebagai relief wajah “bethoro Kala” dengan mata besar dan melotot dan selalu ditempatkan di atas pintu masuk candi. Fungsinya konon diyakini untuk menghindarkan roh jahat yang akan memasuki candi (candi bagi pembangunnya sebagai tempat suci)
    Sedangkan Makara sering dijumpai diletakkan di depan pintu masuk candi disebelah kanan dan kiri, berwujud arca (Gupolo, hewan misalnya singa dll.) fungsinya sebagai penjaga candi (body guard) Demikian Ika….

    Ardy

  4. Sayang sekali ya pak, candi Borobudur tergeser dari 7 keajaiban dunia, kalo saja bangsa Indonesia lebih memilih berwisata ke wilayah sendiri daripada ke negara lain, saya yakin banyak peninggalan sejarah kita yang menjadi keajaiban – keajaiban dunia lagi.

    Semoga Doa Anda trkabulkan.
    Silahkan lihat dan pakai juga TTS buat melatih ananda.

  5. Wonderful idea. I like it. Appreciate your sharing

  6. Terima kasih atas ijinnya u ambil file ini, sayang untuk gambar pembagian struktur candi kurang jelas, ada yang lebih jelas nggak pak

  7. bicara tentang cagar budaya salah satunya candi sangat menarik, kalau diperkenankan saya ingin menambahkan pengertian tentang candi. Saya sepaham pengertian candi yang dikemukakan oleh HJ.Krom dan Stuterheim di atas, dan itu saya sebut pengertian yang pertama. Kemudian ada pengertian yang kedua yaitu dikemukakan oleh Prof Soekmono. Beliau menyebutkan bahwa candi memang masih terkait dengan kematian, namun fungsinya sebagai tempat pemuliaan atau pemujaan raja yang telah wafat dan dibangun setelah 13-14 tahun raja wafat melalui upacara Crada. Peristiwa seperti itu masih berlanjut di Pulau Bali hingga sekarang. Menurut Soekmono dalam penelitiannya disebut bahwa abu yang berada dalam peripih merupakan abu lawe (=benang yang dibuat dari kapuk randu) dan biasanya dipergunakan untuk gelang, kalung atau kendit (ikat pinggang)….maaf tambahan hanya sedikit, terima kasih atas balasannya…maju teruuusss

    Terima kasih tambahannya Mas Djoko,
    Anda benar tentang pendapat Soekmono itu.
    Salam dari saya
    Ardy

  8. Saya mau menggunakan gambar struktur candi di atas untuk karangan saya.
    Saya mohon Bapak mengizinkannya.

    Candi Jepang juga terdapat semacam peripih di bawah fondasi pura atau Otera Jepang. Tempat lingkaran untuk Sumo Jepang juga terdapat lubang di tengahnya dan
    barang suci dikuburkan di bawah tanah.

    Terima kasih
    Masatoshi Noda

    Silahkan !
    Semoga bermanfaat untuk Anda,

    Ardy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: