Posted by: awidyarso65 | 6 August 2008

Tanggapan saya atas tulisan: Quo Vadis Sejarah Indonesia Purba?

 Artikel: Quo Vadis Sejarah Indonesia Purba?

sumber: Drs.Henry AB  

 Publikasi:2008-01-12  

Petikan tulisan:

Benarkah asumsi bahwa mahluk tertua penghuni bumi Indonesia adalah Pithecanthropus dan sejenisnya? Sudahkah kita renungkan kebenaran (tentative) mengenai teori Evolusi yang dicanangkan Darwin? Mari kita cermati dengan seksama dari realita disekelililing kita khususnya di sebagian Tanah Papua betapa fakta menunjukkan mereka adalah homo sapiens di jaman nuklir yang masih sebagian berkebudayaan Batu (lihat: Upacara Bakar Batu) dan juga penemuan modern dibidang Biologi Sel yang menggugurkan teori Darwin? Kalau begitu ……………..?

Tanggapan saya:

Dalam dunia “theory” ilmu pengetahuan semua pemikir sependapat bahwa: sebuah theory akan tetap berdiri kokoh sebelum ada theori baru yang meruntuhkan teori tersebut berdasarkan landasan serta argumentasi ilmiah dengan dukungan fakta-fakta yang tak terbantahkan tentunya.

Para pemikir Barat memang memiliki ‘interest’-nya sendiri, namun dalam penyampaian pikiran tetaplah ia harus berpijak pada kaidah-kaidah keilmuan. Berani keluar dari cara interpretasi di luar kaidah keilmuan seorang ilmuwan tentu akan menjadi bahan kelakar dan memperoleh keterasingannya dari dunia civitas akademika.

Cara berfikir dan berinterpretasi model Barat yang keliru tentu harus kita hindari ! Dengan “local genius” dan “interest” serta “point of view” milik kita sendiri yang dengan memperhatikan kaidah keilmuan, kita melangkah dan mengambil sikap interpretasi  sendiri. Perlu juga kiranya kita bijak, dengan tidak akan mengambil cara interpretasi bermuatan interest pemikir Barat yang negatif. Akan tetapi secara obyektif pula  kita  tidak dapat menyangkal bahwa banyak pemikir Barat yang membuahkan pemikiran obyektifnya untuk perkembangan ilmu. Menolak mentah-mentah semua hal yang berbau kepemikiran Barat, kiranya menjadikan kita dipandang sebagai ‘anti Barat’ dan justru menjauhkan kita dari pemikiran kritis obyektif.

Saya tidak hendak mendukung teori Darwin. Bukan pula penganut ‘Darwinisme’ dalam menyoal asal-usul manusia. Namun, dalam menuangkan idee dan pikiran, hendaknya kita tetap berpijak pada kaidah-kaidah keilmuan serta fakta, argumen dan teori yang masih ‘berdiri’. Manakala kita menyoal secara ilmiah suatu fenomena dengan memakaikan (kaca mata) sudut tinjau non ilmiah (baca: religius view) tentu kita telah keluar dari flatform. Karena sama halnya kita membahas perkembangbiakan lembu dengan pendekatan E=mc²-nya Einstein.

Sebuah teori yang mengundang kontroversi seperti teori evolusi Charles Darwin dalam bukunya “The Descent of Man” dan “Survival of the Fitest” tidak dengan serta merta gurur karena kontroversi yang ditimbulkannya. Tidak pula berarti salah karena lama dan intensnya kontroversi. Ukuran kebenaran ilmiah tetaplah harus diletakkan pada kaidah-kaidah ilmu.

Petikan tulisan saudara Henry Agus Bintoro: …… Pithecanthropus Erectus sebagai bentuk manusia tertua nenek moyang bangsa Indonesia dianggap membuktikan kebenaran teori evolusi dari Darwin”……. Ada kekeliruan interpretasi pada tulisan ini. Penemuan Pithecanthropus Erectus (Pithec=Kera, Anthropos=Manusia, Erectus/Ereksi =Tegak) tidak dipakai untuk pembuktian/atau sebagai pembenaran teori evolusinya Darwin, melainkan membenarkan adanya tahapan evolusi (baca:perubahan sangat lambat) pada species manusia. Atau sederhananya bahwa manusia dalam perkembangannya mengalami evolusi, seperti makhluk hidup yang lainnya.

Secara fisiologi (telaah laboratorium paleoanthropologi) fosil temuan Von Koenigswald di Sangiran dikategorikan Pithec dan Anthropos dengan meneliti Chepalicus Index serta rekonstruksi fisik berdasarkan temuan fosilnya. Sedangkan uji ketuaan usia fosil dilakukan dengan methode mengukur zat kapur ataupun argon yang terkandung pada fosil (Potasium Argon Test) dan dibantu oleh geologi dengan meneliti dari lapisan tanah mana fosil itu ditemukan, dapat diperkirakan periode hidup sang Pithecanthropus.

Berikutnya:

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua para ahli yang telah mencoba menyingkap sisi gelap manusia tertua penghuni bumi Indonesia, andaikata mereka mau menelaah dan merenungkan kebenaran teori evolusi tersebut secara lebih jauh dan mau menjelingkan matanya (maaf bahasa Melayu ikut dipakai) sebentar saja ke daerah saudara-saudara kita di Bumi Papua terutama di pedalaman Jaya Wijaya betapa potret sebagian saudara kita yang betul-betul masih hidup di jaman batu (memasak, menebang pohon bahkan sistim tempat tinggal yang masih nomaden, perladangan berpindah dengan sistim slash and burn dsbnya) tentulah khususnya para Paleoanthropolog Indonesia tidak begitu gegabah untuk tetap mempertahankan keyakinannya bahwa manusia penghuni Indonesia tertua adalah Satu Sub Suku dari Primat (baca : missing link)

Potret nyata kehidupan masyarakat suku asli Papua dengan tradisi ‘bakar batu’ serta kehidupan ‘zaman batu’-nya jelas bukan ukuran untuk mencapai kesimpulan bahwa mereka tergolong primat atau kera-manusia dan sejenisnya. Argumen untuk mempertahankan telaah fisiologi sangat tidak tepat jika dilakukan dengan pisau analisa budaya (culture) !! Bakar batu dan zaman batu adalah topic pembicaraan culture ! Dan perkembangan culture manusia di muka bumi sejak zaman purba kecepatannya tidak sama. Ambil saja contoh: Orang Mesir mengenal tulisan dan membuat Pyramid serta mengawetkan jenazah 4000-an tahun sebelum kita masuk zaman sejarah (Kutai 400M). Amerika telah mendarat di bulan saat suku Aborigin di Australia masih bertelanjang badan (baca: belum berpakaian selayaknya kita) tapi toh Aborigini itu tetaplah manusia. Perbedaannya pada kemajuan budaya dan teknik kedua bangsa/suku bangsa tersebut.

Bahwa kehidupan budaya masa lampau dari nenek moyang kita pada masa purba sebahagiannya dapat kita saksikan pada kehidupan masyarakat suku pedalaman Papua sekarang, boleh jadi demikian. Namun perlu ditegaskan, potret kehidupan sebagaimana digambarkan tulisan Henry AB. Berikut:  ……entah apakah itu Pithecanthropus (kera manusia) ataukah Meganthropus yang pasti nenek moyang bangsa Indonesia jelas terlihat dari potret nyata sekarang (lihat suku Pedalaman Papua yang masih menjalankan adat upacara Bakar Batu) adalah manusia 100 prosen bukan mahluk peralihan seperti yang digambarkan Darwin.)….. dipakai untuk menyimpulkan keadaan fisiologi manusia, adalah sebuah kekeliruan analisa. Sejak awal penelitiannya di Papua, Koentjaraningrat tidak membahas persoalan jenis manusia pendukung budaya Papua (Neolithic papua). Papuanese jelas Homo Sapien (baca:Manusia 100%). Koentjaraningrat sebagai Cultural Anthropolog, membahas rinci Budaya Suku-suku pedalaman Papua. Tidak meragukan kemanusiaannya !

Marilah kita menganalisa fenomena kehidupan dengan kritis dan ilmiah dengan pisau analisa yang tepat. Fenomena ilmu yang mendasarkan fakta, kaidah keilmuan dan menghasilkan konklusi termasuk teori, harus didekati dengan kacamata yang tepat. Tentu bukan dengan pendekatan perasaan dan religi.

Kuala Kencana, 6 Agustus 2008.

Berikut tulisan Henry Agus Bintoro : artikel-henry-agus-bintoro1

Related essay : anthropology1


Responses

  1. Pendapat saya :

    Berdasarkan penelitian pada temuan fosil yang ada, disimpulkan bahwa salah satu ciri Pithecanthropus Erectus adalah Berjalan tegap. Apakah Pithecanthropus dapat digolongkan sebagai homo??
    Karna salah satu ciri homo adalah berjalan tegap.

    Mbak Maharani,
    dari namanya dapat kita pahami sbb: Pithec = Kera; Anthropos = Manusia; dan Erectus = tegak ! Dari arti nama ini kita pahami Pithecanthropus Erectus adalah jenis Manusia Kera yang telah berjalan tegak dengan ke dua kakinya. Ditilik dari tes lab (Potasium argon Test) lebih tua dari jenis homo yang anda maksudkan. Dibandingkan sudut kemiringan dahi dan chepalicus index (indek engkorak) dapat disimpulkan Homo Soloensis dan Homo sapien lebih modern.
    Salam,
    Ardy

  2. Manusia Modern maupun manusia purba hidup bersamaan, dan bukan merupakan proses adaptasi evolusi. namun manusia purba tidak bisa bertahan dan mengalami kepunahan.
    seperti manusia dan kera, hidup pada masa bersamaan,
    siapa yang bisa dan mampu membuktikan benarnya adaptasi evolusi.??

    Menunggu umur manusia lebih dari 1000000 tahun …. jika Tuhan memberikan umur sepanjang itu …..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: