Posted by: awidyarso65 | 4 August 2008

“Pembebasan” dengan “Ruwatan” pada abad XV di Candi Sukuh

            Banyak orang mengidentikkan candi Sukuh sebagai candi porno atau candi erotis. Bagaimana tidak, ketika penulis studi lapangan dengan mahasiswa jurusan Sejarah UKSW, banyak rekan-rekan berpikiran ”ngeres”, menyaksikan pahatan (relief) vulgar yang menggambarkan secara utuh alat kelamin pria yang sedang ereksi, berhadap-hadapan langsung dengan vagina di lantai teras pertama gapura candi. Menurut ceritera rakyat dari mulut ke mulut : Konon, laki-laki yang ingin menguji apakah kekasihnya masih perawan atau tidak, dapat datang ke tempat ini, dengan cara meminta si wanita melompati relief tersebut. Atau suami yang ingin menguji kesetiaan istrinya, dia akan meminta sang istri melangkahi relief ini. Jika kain kebaya yang dikenakannya robek, maka dia tipe isteri setia. Tapi sebaliknya, jika kainnya hanya terlepas, sang isteri diyakini telah berselingkuh (dari sebuah sumber) Ceriteranya memang ada, tetapi faktanya mungkin tinggal cerita? Masih ada banyak lagi indikasi (berupa relief dan arca) yang membawa pemikiran pengunjung sampai pada kesimpulan bahwa candi ini memang candi rusuh (saru atau tabu)

AQU di Sukuh

AQU di Sukuh

Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada  ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut. Letak candi di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi lainnya seperti Gedong Songo, Prambanan dan Borobudur. Bentuk bangunan candi Sukuh lebih mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur candi di bagian belakang juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida Mesir.

 

               Pada gapura teras pertama terdapat sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta mangan wong. Jika dibahasa Indonesiakan artinya adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna Gapura = 9, Raksasa = 5, Mangan = 3, dan Wong = 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Candrasengkala di atas menunjukkan tahun pendirian candi dimasa-masa ahir kekuasaan Majapahit.

               Untuk memahami apa dan bagaimana keyakinan yang terdapat pada ”ritual” ataupun upacara di candi Sukuh abad XV, 600-an tahun yang silam, perlu kita simak makna-makna relief serta patung yang terdapat di candi. Bagian relief dan arca pada candi banyak merupakan symbol dan rangkaian kisah (cerita) dalam mithologi Hindu. Kisah dan symbol yang dipahatkan serta diarcakan kebanyakan berthema ”PEMBEBASAN” yang berkait erat dengan ”RUWATAN”.

Ruwatan adalah salah satu adat Jawa yang tujuannya untuk membebaskan orang, komunitas atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti acara ruwatan adalah doa memohon perlindungan pada Allah (Tuhan) dari ancaman bahaya-bahaya seperti bencana alam dll. Juga doa mohon pengampunan dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan yang bisa menyebabkan bencana. Ruwatan memiliki makna mengembalikan keadaan sebelumnya (suatu keadaan yang baik, menuju social equilibrium) Dapat dikatakan bahwa upacara ruwatan adalah ritual tolak bala atau upacara membuang sial (terjemahan dari Wikipedia berbahasa Jawa)

               Pada relief pertama dan kedua digambarkan kisah SUDAMALA. Bagian penting dari relief ini adalah kisah Batari Uma dikutuk Batara Guru menjadi Durga yang berparas jelek. Sadewa bungsu dari pandawa anak Pandu dan Madrim diikat pada sebuah pohon dikorbankan sebagai tumbal untuk Durga. Pada kisah ini Sadewa berhasil meruwat dengan bantuan Batara Guru dan membebaskan Durga dari kutukan dan kembali kewajah aslinya sebagai seorang bidadari. Pembebasan Batari Uma dari kutukan yang dilakukan Sadewa dengan meruwat yang tergambar pada pahatan kiranya merupakan inti keyakinan masyarakat pembangun candi. Apakah ada hubungan dengan keadaan sosial politik pada masa itu? Di bagian akhir tulisan akan kita tarik benang merah keterkaitannya.

Patung Kura-Kura besar di depan candi merupakan symbol dari Awatara Visnu, yaitu KURMA AWATARA. Awatara dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran (Wikipedia Indonesia). Sang Kura-Kura sebagai perwujudan dewa Visnu (pemelihara dunia) menjadi tempat tumpuan membantu para dewa memutar dan mengaduk-aduk samodra dengan gunung Mandara, untuk mendapatkan TIRTA AMERTA (air kehidupan). Barang siapa entah itu manusia, dewa, raksasa, asura meminum air kehidupan itu maka ia akan terbebas dari kematian dan mengalami hidup dalam keabadian. Keyakinan akan kehidupan kekal/abadi dikemudian hari dan terbebas dari kematian, merupakan harapan-harapan religi untuk digapai/dialami.

Bersebelahan dengan relief cerita Sudamala, ada obelisk yang menyiratkan cerita GARUDEYA. Garuda putra dewi Winata ”meruwat” ibunya dari perbudakan seorang madunya dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda Uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya (racun) di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa. (Kapanlagi.com) Sekali lagi ceritera ”Pembebasan” dengan cara ruwatan diobeliskkan pada ornamen candi Sukuh, semakin meyakinkan kita bahwa memang dahulu tempat ini difungsikan untuk ritual ruwatan.

Depan kanan candi Utama pada obelisk, terdapat relief ”Bimo Bungkus” yang mengkisahkan ruwatan versi Mahabharata. Bima yang lahir dari rahim Kunthi dengan Pandu membuat gempar. Mengapa, karena putra kedua Pandu itu berujud bungkus yang sulit dibuka. Suasana kian hangat. Atas kejadian ini Betara Guru mengutus Ga­jahsena (Ganesya), putranya untuk memec­ahkan bungkus Bima. Usaha tersebut berhasil dan diberikannya pakaian khusus pada Bima yang kemudian diberi nama Bratasena. Paparan kisah Bima Bungkus pada relief ini inti ceritanya yaitu terbebasnya Bima (jawa:Werkudara) dari ancaman kematian, karena lahir terbungkus ari-ari yang tidak dapat pecah (terbuka). Ganeca menolong (baca: meruwat) Bima hingga dilahirkan.

Dari relief, obelisk dan arca di candi Sukuh, banyak didapati symbol-symbol seksual. Symbol-symbol tersebut mengarahkan kita pada suatu aliran penganut paham Tantra. Menurut paham Tantra, untuk mencapai tujuan hidup orang mengucapkan mantra-mantra dan upacara-upacara gaib, dapat bersatu dengan sakti bahkan menjadi sakti itu sendiri. Tata cara pelaksanaan pemujaan sakti menurut  paham Tantra, bagi orang yang bukan penganut Tantra menimbulkan kesan yang tidak baik, karena menurut ukuran masyarakat termasuk larangan atau melanggar kesopanan.

Pada paham Tantrayana dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan (prawerti). Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa=Jawa Mo-Limo) yang terdiri dari (a) Matsya (makan ikan), (b) Mamsa (makan daging), (c) Mudra (makan padi-padian), (d) Maithuna (melakukan hubungan seks secara bebas). Dari sumber-sumber kesusasteraan maupun peninggalan arca yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia termasuk di candi Sukuh, kemungkinan aliran inilah yang banyak dianut pada zaman dahulu. Sedangkan aliran kanan beranggapan bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan Samadhi dan Yoga.(Made Suardana)   Penganut paham Tantrayana berkeyakinan untuk mencapai pembebasan dari dosa (mencapai Moksa), orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (Jawa=Mo-Limo). Benarkah di abad XV di candi Sukuh pada masa Majapahit akhir para penganut Tantrayana menggunakannya untuk upacara Kamamahapancikam (upacara 5 Ma)? Apa hubungannya dengan keadaan masyarakat di era tersebut?

Runtuhnya Majapahit dengan sangkalan “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” Sirno=0, Ilang=0, Kerta=4, Bhumi=1 (0041) dibalik = 1400 Caka + 78 = 1478 Masehi pada Babad Tanah Jawa, berdekatan dengan saat dibangun candi Sukuh (1437 – 1456). Sebagaimana kita pahami dan pernah alami, bahwa saat-saat runtuhnya sebuah rezim/kekuasaan/negara, sering terjadi keadaan tidak menentu. Kekacauan politik, keadaan tidak aman, perampokan dan degradasi moral serta tidak berjalannya aturan meliputi serta menekan masyarakat. Pranata sosial masa transisi seperti di atas menggerakkan kelompok-kelompok (marginal) “mengundurkan diri” atau mengasingkan diri dari situasi mencari selamat (baca: kebebasan) dan berusaha melalui caranya sendiri memperbaiki keadaan. Pencarian atau “Pembebasan” oleh kelompok marginal “Sukuh” dibawa ke dalam situasi ritual (aktivitas ritual) meruwat keadaan dan mengusahakan agar situasi sosial kembali ke equilibriumnya. Meruwat dalam kisah Sudamala, Penyelamatan (pembebasan) Wisnu melalui Kurma Awatara, Kisah Garudea, sampai ruwatan versi Mahabharata dalam lakon Bimo Bungkus adalah bentuk usaha mengembalikan situasi/keadaan seperti sebelumnya saat Majapahit jaya gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo !

               Jika interpretasi-interpretasi di atas berkaitan dan benar, dapat dipastikan bahwa relief dan arca serta obelisk yang dipahatkan di candi Sukuh menuntun kita sedikit memahami keadaan sosial religius masyarakat sekitar Sukuh pada abad XV.  Namun untuk menguji kebenarannya, kita masih memerlukan kajian yang lebih detail serta bukti/fakta-fakta sejarah yang cukup mengenai keseluruhannya.

             Tulisan format lengkap bergambar-nya silahkan klik di:

             pembebasan-dengan-ruwatan-di-candi-sukuh-pdf


Responses

  1. wah..asoy nih jalan-jalan..

    Wah Blog saya dikunjungi teman penting nich !
    Mas Kopdang …. boleh dong saya belajar bagaimana mengembangkan Blog lebih baik buat ke depan ….
    ? Saya masih perlu banyak belajar…. Salam dan terima kasih dari Papua
    Ardy

  2. ehm..ehm..ehm

    Mas Armin ….
    Anda ehm…ehm…. dari jauh saya nggak denger ….
    Sak-iki sampeyan mulang neng-endhi ?
    Sih eling jaman nglakoni sinambi kuliah ono ning UKSW kah ?
    Poster Ayatolah Khomeini sinambi sinau Matematika …..?
    He …. he….he…..
    Ardy

  3. siapa yang nemani sadewo pada relief candi sukuh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: