Posted by: awidyarso65 | 23 June 2008

GENG NERO POTRET SOSIAL PERILAKU MENYIMPANG

Video Geng Nero          Liputan6.com, Pati: Empat pelajar putri sebuah sekolah menengah atas yang menjadi pentolan geng Nero di Juwana, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (14/6) ditetapkan sebagai tersangka. Dari rekaman sebuah telepon genggam, mereka terbukti melakukan kekerasan secara bersama-sama. Maklum, Nero yang menjadi nama kelompok mereka merupakan singkatan dari “neko-neko dikeroyok”.

Kini, anggota geng yang baru kelas satu SMA ini harus meringkuk di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka dikenakan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang diancam dengan hukuman maksimal lima tahun penjara. Polisi juga tengah berupaya menyelidiki kemungkinan bertambahnya korban, karena aksi premanisme ini sudah dilakukan sejak setahun silam.(Cuplikan dari Liputan 6 SCTV) Related link see :  http://www.youtube.com/watch?v=8jbFG5Ed86U

          Di akhir tahun ajaran 2008, dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh ulah sekelompok siswi sebuah sekolah SMA di Juwana, Pati, Jawa Tengah. Beberapa bulan sebelumnya “Geng Motor” yang juga banyak beranggotakan pelajar di kota Bandung & Bogor mewarnai pemberitaan media dengan berbagai bentuk ulahnya yang meresahkan masyarakat. Apakah para pelajar ini “menduplikasi” adegan kekerasan para kakak seniornya di STPDN ? Ataukah merupakan fenomena sosial yang partial ?

          Berbagai tangapan dan komentar bermunculan, baik di media resmi, dunia maya (baca:dunia para blogger) dan menjadi topik pembicaraan masyarakat luas. Dari berbagai tangapan dan reaksi yang muncul ada yang berpendapat “dunia pendidikan bertangungjawab”,…… Geng Nero cermin kegagalan pendidikan ! Banyak pihak yang melirik mengarahkan pendapatnya bahwa perilaku anggota Geng Nero di Pati, Geng Motor di Bandung dan kekerasan di kampus STPDN merupakan tangunjawab dunia pendidikan.

          Terlepas dari benar tidaknya “tuduhan” masyarakat yang menyalahkan dunia pendidikan sebagai yang harus bertanggunjawab atas fenomena Geng Nero, perlu kita cermati hal-hal sebagai berikut:

          Benarkah dunia pendidikan kita mengajarkan praktek-praktek kekerasan didalam proses kegiatan belajar mengajarnya? (proses pewarisan budaya)

          Bagaimana andil masyarakat dan orang tua dalam “mengajarkan” (baca: mempertontonkan) perilaku dalam kehidupan sehari-hari? (kekerasan dalam rumah tangga, perilaku sosial di linkungan masyarakat tempat tingal siswa/anak)

          Ingat ! kita belajar di sekolah (aspek: kognitif, afektif & psikomotor) lebih sedikit jika kita bandingkan dengan kita belajar di rumah dan linkungan masyarakat. Waktu dan intensitas kita belajar di luar sekolah lebih banyak dan real (nyata). Di masyarakat kita menjalani hidup yang nyata (exsperience langsung). Jika sekolah mengajarkan bertutur dan berperilaku yang baik, namun keluarga dan lingkungan sosial mempraktekkan yang berbeda (baca: omong kotor dan tidak sopan), maka siswa sebenarnya telah “belajar” melalui exsperience nyata itu. Adanya “missing link” antara theori yang diajarkan di sekolah dengan praktek yang dialami siswa di rumah dan di masyarakat, menyebabkan siswa memilih diantara dua nilai yang berbeda itu. Mempraktekkan tindakan/perilaku yang menyimpang di sekolah tentu akan mendapat teguran dan bahkan sangsi dari sekolah. Penegakan aturan di sekolah sebenarnya tidak hanya berfungsi menjaga ketertiban tetapi yang lebih penting adalah proses institusionalisasi nilai-nilai kedisiplinan. Lalu dimanakah peran keluarga dan masyarakat dalam andil menjaga dan menerapkan nilai-nilai sosial yang diharapkan?

          Di masyarakat manapun di dunia, akan selalu ada PERILAKU MENIMPANG. Secara sederhana Perilaku Menyimpang diartikan sebagai bentuk perilaku sosial (sekelompok orang) yang tidak sesuai norma-norma yang berlaku di masyarakat.  Wikipedia menulis: Perilaku menyimpang secara sosiologis diartikan sebagai setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat. Perilaku seperti ini terjadi karena seseorang mengabaikan norma atau tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat sehingga sering dikaitkan dengan istilah-istilah negatif.

         Aksi kekerasan yang dipraktekkan di kelompok Geng Nero, jika dilakukan hanya di dalam keanggotaan gengnya saja (in-group), misalnya dalam proses penerimaan anggota geng baru (inisiasi) biasa terjadi di kelompok masyarakat berperilaku menyimpang. Kelompok Perilaku Menyimpang, biasanya memiliki in-group feeling yang membuahkan tata lakunya sendiri dan berlaku hanya bagi kelompoknya. Namun jika tata laku (nilai-nilai group) juga dipraktekkan ke luar, akan mendapati benturan, reaksi dan penilaian yang bebeda, bahkan akan berhadapan dengan hukum.

          Geng Nero adalah Potret Perilaku Menyimpang yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat urban dengan segala fenomena dan permasalahan sosialnya. Kelompok ini membentuk tatanannya sendiri dan berlaku bagi in-groupnya. Kurangnya perhatian dari orang tua, tata nilai standar ganda antara yang diajarkan dan dipraktekkan di sekolah dengan yang nyata dialami siswa di rumah dan di masyarakat, pergeseran nilai-nilai “lama” ke nilai-nilai baru namun belum berlaku (lazim) di masyarakat adalah keadaan yang dicurigai melatari dan mendrive kemunculan kelompok menimpang. Cepatnya perubahan sosial pada masyarakat urban sering menimbulkan kondisi dan situasi seperti di atas.

          Peran sekolah, peran keluarga, peran masyarakat dan semua pihak dalam membentuk tatanan sosial harmony dengan tata nilai dan praktek yang sama, sangat diperlukan untuk mengindarkan masyarakat dari situasi sosial yang dapat memunculkan “Geng Nero-Geng Nero” yang baru. Sebagai contohnya adalah “wajah” pendidikan di Jepang. Ada kesatuan nilai dan tindakan antara sekolah, orang tua, masyarakat dan aparat dalam peduli terhadap kemajuan moral dan pendidikan masyarakat dan bangsa. Siswa yang membolos saat jam belajar dimanapun masyarakat peduli dan melaporkan siswa bolos itu ke polisi atau menanyai siswa itu dan melaporkannya ke sekolah serta ke aparat untuk diberi tindakan. Kekompakan antara sekolah, orangtua, masyarakat dan aparat yang sekata itu nyata-nyata menurunkan angka siswa membolos di negri sakura. Keadaan yang demikian mempengaruhi kedisiplinan, prestasi belajar dan kriminalitas.

          Nah bagaimana pendapat anda ?


Responses

  1. nggaAaAaAaaaAaaAaAKKKKKK

    BaaaAaAaAngGGgeEeEetTTttT

    Sdr/i ….
    he…he…he…. selamat dan sukses ……

  2. Menarik sekali ulasannya yang bisa menempatkan anak sebagai “korban” dan “pelaku” dalam kejadian tersebut.
    Solusi dengan bekerjasama dg pihak pemerintah (polisi, satpol PP, Pemdes, Dinas Pendidikan, dll), masyarakat dan sekolah bisa diterapkan dengan membuat kesepakatan bersama kalau ada “anak” bolos bisa siapapun melapor ke polisi/sekolah.
    Membuat kehidupan sekolah yang menyenangkan pun perlu dikembangkan. “Learn Without Fear”

    Very good sugestion Mas !!
    Masyarakat dan aparat hendaknya diberikan kewenangan dalam berandil di bidang pendidikan, utamanya menyangkut kegiatan anak usia sekolah di “luar” wilayah sekolah pada jam sekolah maupun usai jam belajar. Pelibatan secara proporsional terbukti efektif di Jepang.
    Selamat berjuang untuk pendidikan yang lebih baik.
    Ardy

  3. Menyaksikan berbagai perilaku para anggota genk di berita TV, menurut hemat saya sudah sangat memprihatinkan. Remaja yang seharusnya tekun belajar, malah terjerumus ke dalam dunia yang tidak benar. Tentu banyak sebab yang menjadi pemicunya, namun paling tidak sudah saatnya orang tua memberikan perhatian lebih kepada para putra-putrinya.

    Sudah bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan. Kini tanggung jawab ada di tangan kita semua. Polisi, orang tua, atau siapapun sudah selayaknya memberi perhatian yang cukup sehingga mereka bisa jadi generasi penerus bangsa yang produktif dan dapat diandalkan.
    Kata Mutiara


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: