Posted by: awidyarso65 | 19 May 2008

Wacana sistem guru kelas di SD-YPJ-KK

Jumat, 16 Mei 2008, sekitar jam 09.30 WIT di perpustakaan SD-YPJ-KK, dalam diskusi dengan seorang rekan guru, saya mendapat informasi adanya wacana (gagasan) untuk menerapkan sistem guru kelas pada level kelas 4, 5, 6 (kelas besar) di SD-YPJ-KK. Berbagai pertanyaan seketika muncul di b

enak saya. Apa tujuan/motifnya? Apa dasarnya? Mengapa ide ini digulirkan? Apa baik dan kurangnya jika sistem “Guru Kelas” ini bila benar-benar diimplementasikan? Wacana itu mengundang banyak tanda tanya. Sebelum kita membahas segala pertanyaan di atas marilah kita sedikit melihat kondisi sekolah-sekolah unggul dan sekolah pada umumnya baik di Jawa maupun di luar Jawa pada jenjang SD di masa lalu dan kini.

            Di era tahun 70 sampai tahun 90-an dunia pendidikan kita masih sangat kekurangan guru. Kekurangan guru itu, masih terus berlanjut dan merupakan masalah hingga kini. Tengok saja tayangan Metro TV tiga minggu lalu yang menayangkan sebuah sekolah di wilayah Agats, pedalaman (Papua). Ada sekolah tanpa guru. Pengajar di sekolah tersebut adalah seorang penjaga sekolah. Ia mengajar membaca, menulis, dan berhitung untuk beberapa kelas paralel sekaligus. Jika dikuliti dengan teliti, masih banyak contoh di wilayah lain termasuk pulau Jawa, yang memaparkan permasalahan kekurangan tenaga guru.

Selain persoalan guru, pada era 80-an infrastruktur sekolah berupa bangunan kelas tempat kegiatan belajar guru-murid masih dalam tahap pembangunan (ingat pembangunan SD Inpres), karena kekurangan lokal kelas yang luar biasa.

Dalam rangka mengatasi kekurangan tenaga guru terutama di level SD, maka sistem guru kelas merupakan cara efektif sementara penyelesai masalah. Artinya, seorang guru (tidak peduli latar belakang spesialisasi keilmuannya) mengajarkan berbagai bidang studi/ilmu pada kelas tertentu. Dapat diprediksikan bagaimana hasil (out put) keilmuan siswa yang didapat dari ”Guru Super” yang mengajarkan berbagai bidang studi sekaligus sebagaimana dijelaskan di atas. Misalkan seorang guru bidang IPS (sarjana) dia harus mengajar Matematika, IPA (science), Musik, Olahraga, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang bukan merupakan bidang keahlian/keilmuan yang dikuasainya.

Dalam pandangan saya secara pribadi, wacana sistem guru kelas untuk diterapkan pada kelas besar (kelas 4, 5, 6) adalah pemikiran yang out of date. Wacana/pemikiran untuk mengimplementasikan sistem ”Guru Kelas” ke depan, adalah langkah mundur. Mengapa? Berikut beberapa alasan mendasar:

1.      Berdasarkan sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia Sistem Guru Kelas diterapkan dalam rangka mengatasi kekurangan guru. Kita masih ingat pada masa tahun 80-an, satu kelas dengan jumlah murid lebih dari 40 siswa dengan satu orang guru mengajar semua bidang studi? Apakah YPJ kekurangan guru? Jika kekurangan mengapa tidak merekrut guru? Apakah YPJ kekurangan lokal kelas? Kalau kekurangan mengapa tidak menambah kelas baru? Masalah budget? Apakah PTFI tidak akan mengucurkan dana jika untuk prestasi dan kemajuan?

2.      Jika di kelas 4, 5, 6 diterapkan sistem guru kelas, maka kemungkinan akan ada guru yang tidak mendapat kelas jika tidak ada penambahan kelas ….. kemudian (bagaimana Human Resources Management-nya?)  guru yang tidak mendapat kelas bagaimana? (dipensiun?) atau ……

3.      Jika diterapkan sistem guru kelas pada kelas 4, 5, 6, maka moving class yang selama ini berjalan baik sebagai saat refresh siswa untuk siap ke pelajaran berikutnya tidak terjadi. Kejenuhan siswa akan timbul. Motivasi belajar siswa pasti berubah (saya memprediksi berubah menurun/malas). Seorang siswa mulai dari Senin sampai Jumat hanya berinteraksi dengan guru kelasnya atau walinya saja, tanpa variasi.

4.      Jika diterapkan sistem guru kelas pada kelas 4, 5, 6 maka Kualitas pelajaran Matematika yang diajarkan guru kelas, akan berbeda. Bagi yang perwaliannya adalah guru matematika, akan menerima pelajaran lebih baik dan mendalam dari pada yang walinya mengajar IPS. Sebaliknya, kualitas pembelajaran IPS yang walinya adalah guru IPS akan menerima lebih baik daripada yang walinya berlatar belakang guru Matematika. Dan seterusnya …………

5.      Administrasi mengajar yang harus disiapkan oleh guru kelas, akan sangat banyak, jika harus menjadi tanggungjawabnya.

6.      Secara Filosophy seseorang yang mengajarkan bidang studi yang tidak dikuasainya atau bukan merupakan keahliannya adalah pembodohan, tidak berdasar dan dapat menyesatkkan.

7.      Mendasarkan pada argumen filosofis: Ilmu akan semakin unggul dan akurat apabila semakin terspesialisasi.

8.      Tinjauan Yuridis (kaidah intelektualitas) seorang sarjana pendidikan hanya memiliki kewenangan mengajar bidang studi sesuai dengan kapasitas keilmuannya (perhatikan petikan ijazah).

9.      Ditinjau dari sisi Kurikulum KTSP yang diimplementasikan di SD-YPJ-KK, jelas mengisyaratkan bahwa sekolah mengacu pada ketercapaian KOMPETENSI-KOMPETENSI yang ada pada setiap mata  pelajaran (terspesialisasi). Bagaimana kompetensi-kompetensi yang diisyaratkan itu dapat dicapai jika guru-nya pun tidak memiliki kompetensi terspesialisasi pada bidang yang diajarkan?

10.  Sistem Guru Kelas (di kelas besar) apa keuntungannya? Saya melihat keuntungannya hanyalah pembiayaan/pengeluaran sekolah lebih irit, tidak perlu meng-hire guru, tidak perlu menambah lokal kelas. Akan tetapi sangat jelas akan menurunkan kualitas pembelajaran yang berujung pada kualitas  lulusannya.

Sekolah-sekolah umum  yang berupaya meningkatkan kualitas lulusannya di kota kota besar justru kini mengubah pola sistem guru kelas menjadi guru bidang studi. Silakan studi banding ke sekolah-sekolah unggulan. Dalam satu kelas selain jumlah siswanya dibatasi maksimal 22 – 25 siswa (mencapai rasio ideal perbandingan guru-siswa), guru yang mengajar adalah guru yang memang menguasai bidang yang diajarkannya. Pada umumnya dalam satu kegiatan pembelajaran seorang guru dibantu dengan assistant guru. Berangkatlah studi banding ke Ciputra Surabaya, Pelita Harapan Jakarta, Global Jaya School jakarta, Karangturi Semarang, dan berbagai sekolah unggul lainnya

Untuk memahami bagaimana dan mengapa wacana ini digulirkan, tentu kita harus bertanya pada sumber yang mewacanakannya. Kita tanyakan saja apa latar belakang dan tujuan ide ini? Apa dasar dan landasan filisofis didaktik pelaksanaannya? Apa positif dan negatifnya dan mengapa digulirkan di akhir tahun ajaran 2008. Akankah mulai diimplementasikan pada tahun ajaran mendatang? Atau kapan? Meskipun pemikiran ini baru sebatas wacana, namun demi kebaikan dan kemajuan dunia pendidikan kita, tetaplah baik bila wacana  ini perlu kita kritisi. Silakan Anda mencari tahu jawabnya pada pimpinan sekolah (pewacana). Atau jika Anda ingin solusi, mari kita (stake holder) duduk bersama, sediakan waktu dan tempat berdialog mencari penyelesaian terbaik.

Hanya sekolah yang mau colaps (baca: bangkrut) yang akan mengubah sistem yang sudah baik, dengan menggantinya dengan sistem lama (guru kelas) demi penghematan anggaran, atau demi menekan budget pengeluaran. Silakan Anda bersikap manakala dunia pendidikan kita terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, ujug-ujug (baca: tiba-tiba) ide guru kelas yang penuh kelemahan daripada kelebihannya muncul dan apalagi jika dilaksanakan/diterapkan. Akan diarahkan ke manakah dunia pendidikan (baca: YPJ-KK) kita ke depan? Akankah kita mengalah dan menyerah dengan himpitan ”budget” (dana operasional) karena tuntutan efisiensi dan sejenisnya? Sudah tertutupkah upaya lainnya?


Responses

  1. Masa sih YPJ KK yang megah itu mau kembali ke Jadul??? Kaya sekolah negri aja satu kelas 1 guru.

    Di kabupaten Mimika khususnya di pedalaman masih banyak sekolah yang tak layak malah bagusan kandang ayam. Dan satu orang guru mengajar satu sekolah. Hebat bukan!!!

    Anak-anak yang bersekolah di YPJ menurut saya sangat beruntung, selain fasilitasnya yang oke, gurunya pun banyak….. coba sekolah negri seperti di aroanop, tipuka atau daerah pesisir lainnya??? benar2 menyedihkan dan itu salahsatu penyebab mutu pendidikan dasar di mimika hancuuuur….

    BTW siapa jagoannya dalm Pilkada :D

    Halo Mas Miskan (Meno Timika)
    Ternyata kita sependapat ! Terima kasih ya …. ini kan buat kemajuan pendidikan di YPJ dan Timika pada umumnya !? Nah terima kasih atas masukan dan komen nya.
    Selamat bekerja Eno !

  2. wahwahwah. kayakny emng kurang bagus kalo kayak gitu. nanti, murid2 pasti jadi susah beradaptasi. dan bener kalo kayak begitu, murid akan males. misalnya kelas 5nya unggul di IPS (karna walinya guru IPS), trus, pas kelas 6 walinya unggul di matematik, jadi susah juga kan? yang tadinya kurang di matematik, harus mengimbangi pelajaran yang tingaktannya lebih “sulit”. saya sih sebagai murid, kurang menerima usulan itu yaaa. tapi menurut aku, moving class itu kadang kadang sedikit kurang efisien(bener gak nulisnya?) juga. karna selama ini, satu pelajaran, waktunya bisa kurang dari waktu yang ditentukan. biasanya anak anak — katakanlah “ngaret” dulu sebelum masuk kelas selanjutnya. jadi waktu belajar juga jadi kurang.

    pengalaman aku siiih, waktu di sd dulu, yang berpindah itu gurunya. dan ada beberapa guru, yang sudah di tes, dan menurut sekolah mampu mengajar 2 bidang studi, bisa mengjar 2 bidang studi. tindakan ini kan bisa menghemat juga.

    dan menurut aku sih, sebenrnya PTFI itu gak mungkin kalo gak bisa menanggung biaya untuk menambah kelas, ato guru. pandangan saya, YPJ dan PTFI itu bisa. tapi bukan berarti mampu, smuanya harus “dihamburkan”. dan menurutku, kalo emng YPJ mau yang terbaik, mungkin gak semuanya harus mengirit. ya yang pas pas aja lah. yang sekiranya biaya yang dikeluarkan bisa menghasilkan “buah” juga.

    yaaaaaah. kira kira itulaaah, gamo banyak ngomong (padahal udah banyak ngomong). huehehe
    kalo ada huruf, kata, kalimat, pengucapan ato apalah yang salaaah, sorry dorry stoberry sangatlah :)
    okeoke dada

    Allisya,
    Wow ………… tanggapannya huebat nich !
    Trims ya … udah luangkan waktu buat nanggepin tulisan sekolahmu.
    Keep in touch ………
    da…da…

  3. kalo menurutku, guru tambah berat kerjanya dengan jadi “guru super”. kecuali kalo jumlah mata pelajaran dikurangi dulu, trus guru disiapkan bener-bener, bukan langsung diposisikan jadi “guru super”. kalo dari segi hemat anggaran, mungkin bener, kalo pola “guru super” bisa lebih hemat bagi sekolah.
    tapi apo iyo itu cara terbaik?..

    Mr. Gun
    Mo kasih masukan nyo.
    Aku coba nak jadi guru super kalo biso ….. he…he…he….
    Kalo dak biso … ? kito manage bae badan kito dewek biar dak stress !!!
    Yo dak ?!

  4. saya lagi di madiun omm…nanti pulang baru ketemu pak you lagi…nanti balik ke timika tgl 12…baru om balik tanggal berapa?

    Hai Fred !
    Salam buat anak istri Mu di Madiun ya !
    Ingat “proyek” kita tentu akan kita runing di masa yad toh ?!
    Beres Frend !!!

  5. Haloo, pak Ardy. Sy tyas, msh ingat kah dgn saya? Dan sya hrp bpk msh mengingat sya!

    Tyas,
    Pak Guru masih ingat ! Bahkan masih menyimpan no hp-mu…. tetapi no hp-mu udah ganti kah ? kog nggak bisa dihubungi lagi ?
    Belajar yang giat ya ….. semoga kamu sukses di Malang…. Salam buat temenmu yang ada di sana.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: