Posted by: awidyarso65 | 11 May 2008

Mengapa Harga Minyak (harus) diNaikkan ?

Antre Minyak(Sebuah Renungan)

Saat membuka The Asia Pacific Conference and Exhibition 2008 on Financial Transformation, Rabu (7/5), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan kembali rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Yang belum pasti adalah kapan ? dan berapa besaran kenaikannya ! BBM naik bukan karena pertimbangan politik ! demikian tegasnya.

Hari-hari berikutnya ratusan, bahkan ribuan mahasiswa berdemontrasi di kota-kota menolak kebijakan menaikkan BBM. Berita di televisi dan koran mulai dipenuhi dengan topik BBM. Wawancara dengan para pedagang pasar, dengan “kelompok” miskin kota serta para ibu rumah tangga yang tengah mengantri BBM menjadi liputan yang tak henti. Keluhan akan kenaikan harga bahan pokok dan sayuran semakin dilantunkan.

            Bila kita cermati lebih teliti dan mendalam, …dan kita kritis obyektif dalam mengemukakan fakta, maka tentu kita akan sampai pada muara memang minyak harus naik. Pertanyaannya mengapa minyak harus naik ? Apakah bisa tidak menaikkan harganya ? Bagaimana akibat jika dinaikkan ? Bagaimana akibat jika tidak dinaikkan ? Berbagai pertanyaan muncul dalam problematika antara menaikkan atau tidak menaikkan harga BBM.

Di pasaran internasional pada hari ini (11/5), harga minyak mentah dunia rata-rata telah mencapai diatas $ 122 / barel. Kenaikan harga terjadi karena permintaan pasar dunia meningkat, akibat naik tingginya permintaan China dan India karena pertumbuhan industri kedua negara itu yang sangat pesat, dipihak lain OPEC yang didesak Bush untuk menaikkan pagu produksinya telah berketetapan untuk tidak menaikkan produksinya.     

Pada sisi yang lain,  APBNP 2008 mematok minyak dengan harga $ 95/barel. Dapat kita kalkulasi, berapa subsidi yang ditanggung negara (pemerintah) dalam memenuhi keburuhan minyak rakyatnya ? Jika kita lanjutkan kebijakan subsidi seperti ini, siapakah yang diuntungkan ? Memang siapapun senang dengan harga BBM murah. Akan tetapi sekali lagi siapa yang menikmati subsidi BBM. tersebut ? Pasti orang yang punya motor, punya mobil dan punya perusahaan !! Dan itu semua di kota-kota, terutama kota besar. Tidaklah mengherankan jika aksi demo terhadap kebijakan menaikkan harga BBM ini hanya terjadi di kota-kota. Telitilah berapa besar kuota kebutuhan petani yang adalah mayoritas rakyat akan BBM. Dalam sebulan kuota kebutuhan BBM petani rata-rata hanya 12 liter minyak tanah, itupun yang pakai kompor minyak. Sementara seorang mahasiswa dengan motor saja untuk kuliah rata-rata 30 – 35 liter per bulan, apalagi dengan mobil ? Lalu berapa besar pemilik perusahaan yang mengoperasikan alat produksi berupa mesin dan kendaraan dalam jumlah ratusan bahkan ribuan menikmati subsidi dari negara setiap harinya ? Coba kita hitung-hitung sbb: Sebuah perusahaan rokok ”J”, setiap hari mengoperasikan angkutan distribusi produksinya keseluruh wilayah nusantara dengan 1000 armada mobil. Masing-masing mobil dalam beroperasi setiap harinya menghabiskan 40 liter. Jadi pemilik perusahaan rokok ”J” tersebut menikmati subsidi BBM per hari = 40.000 liter X Rp 4.500,- (jika harga non subsidi/harga internasional Rp 9.000,- / liter) = Rp 18.000.000,- / hari !!! Itu belum BBM untuk memutar pabriknya !! Kemudian berapakah si kaya pemilik perusahaan rokok ”J” tersebut menikmati subsidi dalam setahun ? Lebih dari 6 Milyar !! Tidak mengherankan jika agar harga BBM tidak naik, dan kepentingannya terjaga, banyak pemilik perusahaan mendanai aksi-aksi demo demontrans di kota-kota.

            Kebutuhan minyak dalam negri per hari mencapai 1,2 juta barel. Kapasitas produksi minyak nasional menurut Kurtubi (pengamat perminyakan) pada level sekitar 975 ribu barel per hari. Untuk pemenuhan kebutuhan dalam negri kita minus 225 ribu barel, dan disediakan dengan cara impor. Pemahamannya adalah: Negara (pemerintah) membeli (impor) dengan harga $ 122/barel dan kemudian dijual kepada “rakyat” nya (baca: pemakai BBM / yang punya motor & mobil) dengan harga $ 95/barel. Memang negara ini hebat ! Menyenangkan “rakyat”-nya dengan terus mensubsidi banyak hal. Mensubsidi baik ! jika sasarannya tepat ……… ! Tetapi akan ada dampak buruk juga, kapan bangsa ini akan kuat dan mandiri jika terus hidup dengan cara disubsidi ?

            Pemberian subsidi menimbulkan disparitas harga minyak. Ada beda harga minyak yang disubsidi dengan harga minyak non subsidi untuk pabrik/industri. Ditambah pula beda harga minyak di dalam negri dan di luar negri. Disparitas harga minyak itu rentan terhadap penyalahgunaan maupun penyelundupan. Margin harga yang menggiurkan pada faktanya telah banyak disalahgunakan. Penimbunan minyak, pengoplosan minyak dengan membeli harga subsidi kemudian dijual ke pabrik, telah banyak menjadi berita. Penyelundupan melalui muatan kapal maupun “kencing” di laut untuk diselundupkan ke luar negri senantiasa terjadi. Selama ada beda (margin) harga minyak, penyalahgunaan penimbunan maupun penyelundupan komoditas ini akan terus terjadi, sekalipun untuk pelaksanaannya telah ada regulasi. Kondisi-kondisi di atas kiranya menjawab mengapa harga minyak dinaikkan.

            Dalam lawatan Megawati Soekarno Putri ke sebuah pasar di Bali (Sabtu 10/5) dijumpai keluhan pedagang dan pembeli di pasar tentang naiknya harga-harga kebutuhan rumah tangga (sembako dan sayur) jauh sebelum ditetapkannya kenaikkan harga BBM. Keadaan ini tidaklah terlalu mengagetkan ! Kenaikan harga-harga pangan bukan hanya di Indonesia. FAO, badan pangan dunia 2 minggu lalu dalam pertemuan di Vienna menyampaikan keterangan pers bahwa harga-harga pangan dunia akan terus mengalami kenaikan sampai tahun 2015. Keadaan ini diantaranya diakibatkan oleh konversi bahan pangan ke sektor energi (karena kelangkaan mahalnya harga  minyak) Negara-negara / pemerintah yang melakukan konversi bahan pangan untuk energy adalah telah melakukan “crime agains humanity” demikian tandas sekjen PBB, Ban Ki Mon. Meski mendapat kecaman Amerika tetap bergeming. Banyak beredar opini di masyarakat bahwa kenaikan harga-harga pangan terjadi mendahului kenaikan harga BBM atau dalam pengertian lain bahwa issue kenaikan BBM telah mengakibatkan harga pangan naik. Opini yang demikian tentu tidak sepenuhnya benar. Masih ingat kelangkaan kedelai yang mempengaruhi industri tempe tahu tahun lalu (2007)? Itu terjadi sebelum issue BBM akan dinaikkan dan jauh sebelum harga minyak dunia naik seperti keadaan sekarang. Harga kedelai melonjak akibat kelangkaan kedelai di pasar ! Impor kedelai dari Amerika Serikat di stop! Mengapa ? Karena USA merasa lebih menguntungkan mengubah kedelainya menjadi Bio-diesel untuk menggerakkan Bis-Bis transportasi mereka ketimbang meng-ekspor-nya. Pada kasus ini tampak jelas ”wajah Amerika” yang selalu mementingkan egonya. Industri pertempean kita sempat kelabakan, karena petani kita  tidak tanam kedelai. Yang lebih parah, negara-negara yang berketergantungan produksi pangannya kepada Amerika Serikat ………… mereka kelaparan !

Kenaikan harga pangan banyak faktor penyebabnya. Perobahan iklim (Climate Change) yang berakibat pada gagal panen, Konversi pangan ke energy, ketergantungan kepada negara lain berandil menaikkan harga pangan. Bulan lalu (April) Jepang membatalkan impor beras dari Thailand karena harganya telah dinaikkan. Pendek kata bahwa memang harga pangan dunia tengah merangkak naik.

Bahwa akan terjadi kenaikan ongkos pada sektor transportasi yang ber-efek pada naiknya berbagai komuditas, jika harga BBM naik itu pasti. Standart of living di kota-kota tentu akan mengalami kenaikan. Apakah keadaan tersebut mempengaruhi angka kemiskinan ? Mungkin ya, mungkin tidak !? jika pemerintah secara tepat mengalokasikan BLT – nya kepada kelompok miskin ini, maka angka kemiskinan masih dapat ditekan. Karena menurut moralitas saya, lebih baik mensubsidi kelompok miskin ini (melalui BLT) dari pada mensubsidi orang-orang kaya dan para mahasiswa dengan terus mempertahankan subsidi BBM!! Mahasiswa tergolong kelompok kelas menengah (kaum cendikia) nggak mungkin bisa kuliah kalo nggak punya duit ?!

Apa yang terjadi jika BBM tidak dinaikkan ? APBNP 2008 akan mengalami besaran defisit yang luar biasa . Daya bangun negara (kemampuan membangun) secara pasti akan mengalami penurunan (baca: kebangkrutan) Kepastian semacam ini jika diteruskan hanyalah persoalan waktu. Siapapun Presidennya, jika menghadapi situasi seperti sekarang tentu akan memilih kebijakan menaikkan BBM, meskipun pertaruhan politik 2009 pertaruhannya jika mau menyelamatkan negara !!! Presiden yang berorientasi menyelamatkan diri sendiri untuk menghadapi ajang akbar 2009 dengan mempertahankan untuk tidak menaikkan harga BBM, agar mendapatkan simpati rakyat adalah presiden yang haus kekuasaan !

Berikut file pdf-nya :  mengapa-harga-minyak


Responses

  1. kalo mak itu, milih lagi SBY idak ni? heheeh
    kan dio idak pake popular ec. policy?

  2. OK pak… salam kenal juga..
    ternyata pemikiran kita sama… tentang bagaimana harga minyak harus naik…

    tetapi bagaimana jika harga minyak jadi naik… dan dampaknya bagi masyarakat miskin di indonesia ini…????
    kalo si kaya yang bapak ceritakan, dia sih enak2 aja angkat kaki….

    mungkin suatu saat nanti saya akan menuliskan dampak kenaikan bbm secara mikro dan makro ekonominya…

    http://zeista.wordpress.com
    http://www.zeistacorp.com

  3. ini buat ngumpulin pro kenaikan BBM ato gimana sih.. :D
    yang jelas pemikiran bahwa BBM perlu dinaikkan ditinjau dari sisi APBN saya juga setuju.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: