Pagi hari kemarin Selasa, 24 Juni 2008 para orang tua calon siswa mendaftar melalui “jalur khusus” masuk ke SMP N 21 Banyumanik, Semarang. Diantara para orang tua calon siswa banyak yang bingung dan saling bertanya mencari informasi. Bapak ikuti jalur khusus? tukas Bu Heny orang tua calon siswa. Berapa pak uang jalur khususnya, tambahnya sedikit mendesak. Yang ditanya terlihat ragu dan berfikir ….. saya juga kurang tahu Bu, jawab sang Bapak datar.
Suasana di lantai dua tempat wawancara dan input data calon siswa yang hendak masuk ke SMP N 21 pagi itu cukup ramai dan para petugas pendaftar terlihat sibuk. Dua meja KOMITE sekolah yang mewawancarai orang tua calon siswa yang mau masuk melalui jalur khusus masing-masing diisi oleh dua orang KOMITE yang ditunjuk untuk tugas itu. Orang tua calon siswa bergiliran diwawancarai. Sambil menunggu, terlihat beberapa orang tua calon siswa berbisik mencari tahu berapa minimal uang yang harus dibayarkan untuk dapat diterima masuk melalui jalur khusus ini. Berapa uang kontribusinya Pak, lanjut Bu Heny bertanya pada seorang bapak yang duduk antri disebelah kanannya. 7 Juta rupiah Bu, jawab sang Bapak. Kalau Bapak?, Lagi Bu Heny bertanya mengarah pada
seorang Pak De di belakangnya yang mendaftarkan keponakannya dimana pada saat pendaftaran si anak masih di Pekanbaru Riau. 12 Juta rupiah tukas sang Pak De. Mengkerut wajah Bu Heny seketika. Wah …. Saya nggak mampu kalau segitu bayak. Anak saya jelas tidak akan diterima jika ukuran diterimanya siswa yang melaui jalur khusus harus duit! Ketusnya. Maklum Bu, kemauan si anak yang “ngedrel” minta masuk ke SMP N. 21. Padahal jumlah nilai hasil ebtanasnya Cuma 16,45 lanjut sang Pak De, pendaftar anak keponakannya itu. Saya khawatir akan kemampuan si anak …! …. Dan sudah saya nasehati Bapak si anak, bahwa sekolah ini sekolah unggulan ….. kalau nggak bisa ngikuti dan berahir dengan kegagalan gimana? Lanjut sang Pak De menjelaskan. Pasti kalau soal penerimaan jalur khusus kali ini anak sang Pak De keterima ! mesti nilai ebtanasnya rendah. Sebab ukurannya kontribusi alias duit !! gumam Bu Heny dalam hati.
Giliran Bu Heny diwawancarai. Dia penuh harap agar anaknya juga diterima diantara jumlah 25 calon siswa yang akan diterima melalui jalur khusus di SMP N 21. Dengan 5 juta rupiah ia sanggupi untuk diberikan sebagai kontribusinya bagi kemajuan sekolah. Penuh rasa selidik ia menanyai saya ….. Bapak mengisi berapa? 4 juta rupiah saja Bu. Jawab saya. Kalau nggak diterima ya sudah. Kita wajib bersusaha (ikhtiar) Allah yang menentukannya melalui keputusan Komite jawabku pasrah.
Seorang Komite, Pak Slamet menanyai ketika saya menghadap berwawancara dengannya. Bapak sudah paham dengan jalur khusus? Paham jawab saya datar. Sebelumnya saya ulurkan tangan dengan ucapan selamat pagi dan menyebut nama saya. Pak Slametpun menerima menyambut sembari menyebutkan nama. Setelah yakin dan tidak banyak bicara, ia menyodorkan surat pernyataan yang intinya berisi pernyataan kesanggupan orang tua calon siswa dalam memberikan kontribusi (baca:uang) untuk penyelengaraan sekolah. Tanpa banyak tanya saya mengisinya dan 4 juta rupiah kontribusi maksimal sesuai kemampuan saya yang bekerja sebagai guru SD.
Pertanyaannya …… akankah anak saya diterima di sekolah yang diinginkannya? Jika menilik pendaftar yang melalui jalur khusus lebih dari 80 siswa, dan yang akan diterima hanya 25 siswa saja?! Apalagi dengan kriteria kontribusi? Rasa-rasanya mimpi !!! Ya sudahlah nak ….. kita pasrahkan saja pada Allah.





Salam saya untuk kepala sekolahnya (masih Sunaryo Projo?). Tanyakan: apa harus begitu caranya? Saya pernah jadi dosennya. rasanya nggak ngajarin yang gituan tuh?
Pak Hari Wibawanto,
Terima kasih pak atas comment-nya.
Saya harus banyak belajar dari Bapak …… semoga Bapak tidak berkeberatan menjadikan saya sebagai satu dari murid Bapak. Nuwun.
Mudah mudahan Pak Sunaryo Projo membaca komentar ini.
Salam,
Ardy
Oleh: Hari Wibawanto on 27 Juni 2008
at 1:10 AM
Kita sadari bersama, “jer basuki mawa bea”, pada saat yang bersamaan, tuntutan akan “kemajuan” melebihi kapasitas kemampuan. Idealisme akan biaya negara, masih terlalu jauh untuk direalisasikan, akibat banyaknya “pemangsa”.
Satu hal yang msh menjadi pengharapan, masihkan ada idealisme dari para pendidik (baca: guru) untuk mengamalkan tugas mulianya secara ikhlas.
Salam dari keluarga besar Payung Mas
Mas Armas,
Masih banyak pendidik kita yang mulia dan mengamalkan tugasnya dengan iklas. Saya yakin itu.
Mudah-mudahan negri ini semakin baik dalam berbagai hal kehidupannya.
Terima kasih salamnya.
Oleh: armas arifin on 11 Agustus 2008
at 2:01 AM
Bagi siapa pun yang membaca tanggapan saya
mohon dimengerti……
Saya adalah murid SMPN 21 sendiri dan saya berpikir apakah melalui jalan itu bisa mencerdaskan kehidupan bangsa indonesia ????
apalagi SMPN 21 semarang adalah RSBI yang cukup terkenal di Semarang……
Saya pun sebagai pelajar jika saya tidak diterima di SMPN 21 saya tidak akan begitu……
Tapi syukur alhamdulillah saya diterima….
Semoga dari kalangan guru maupun kepala sekolah SMPN 21 ada yang membaca tanggapan saya, terimakasih……
Oleh: Satrio Maulana Tsubasa on 27 November 2008
at 2:18 PM
Pak, guru2 21 klo ngajar enak, tpi da jGa yng gLak…..??
Trim’s
Dieta,
Yang hebat itu sebenarnya siswa-siawanya !
Mengapa? Sebab siswa harus menyesuaikan diri dengan semua karakter gurunya, agar belasan gurunya itu merasa di ‘anggep’ / dimuliakan. Sulit, bahkan nggak mungkin merubah karakter guru, sebab udah ‘berkarat’ ! Maka ubahlah sikap mu agar dalam mind set berfikir mereka kamu baik.
Selamat belajar.
Oleh: Dieta on 4 Desember 2008
at 9:38 AM
Dalam dunia pendidikan memang membutuhkan biaya sebagai syarat pendaftaran dan ongkos pembangunan sekolah untuk memajukan kualitas siswa dimata pemerintah. dalam hal ini saya anggap itu adalah suatu kewajiban kita, karena dengan tingginya kualitas siswa maka akan menjadi langkah awal untuk membangun SDM yang bermutu untuk bekal menjadi tunas bangsa yang mengutamakan pembangunan sebagai prioritas utama negeri.
tapi setelah saya tinjau dari artikel ini, pemikiran tentang itu seketika berubah. ternyata dalam dunia bisnis terdapat kata “konstribusi” sebagai pelaku utama terjadinya transaksi terlarang. kejadian seperti diatas saya masukkan kedalam kamus kejahatan yang mengambil keuntungan dari penyuapan sebagai syarat diterimanya sesuatu dalam suatu instansi. “korupsi”, itulah kata yang akan saya katakan sebagai akhir dari tanggapan saya mengenai kejadian diatas.
hal ini sudah membuktikan bahwa rendahnya tingkat kesadaran rakyat indonesia tentang kejahatan. itu semua menunjukkan bahwa SDM kita yang tidak bermutu dan tidak akan maju selama kejahatan seperti diatas masih belum bisa diatasi. saya hanya bisa berharap, semoga baik individu maupun kelompok yang bersangkutan diberi kesadaran akan semua yang telah dilakukannya, dan sanggup memperbaiki sebagai langkah awal menuju pembangunan negeri yang sportif dan memperbaiki bangsa dimata dunia.
Mas Dwi,
Pemakaian bahasa Indonesia oleh banyak pejabat sering diletakkan untuk “mengelabui” masyarakat. Harga minyak naik dibilang “disesuaikan”; Pungutan liar dikatakan “kontribusi”; Tarif Tol, Tarif angkutan naik dibilang “menyesuaikan kenaikan BBM” dll. Pejabat banyak akalnya ya…..
Semoga tidak semua dan masih lebih banyak yang punya hati…..
Ardy
Oleh: Dwimayoga on 2 April 2009
at 12:01 PM
sebelum dan sesudahya saya ucapkan salam,
saya sebagai murid didikannya merasa agak kecewa atas tindakan sekolah mengenai penerimaan peserta didik baru dengan sistem “pungli”. jika dihitung-hitung, berapa banyakkah “kocek yang masuk kedalam kantong pribadi perseorangan ? (saya tidak mengatakan kepala sekolah).
terimakasih atas respon positifnya.
salam duefcom (dua ef comunity). . . .. .. ..
Oleh: dwimayoga on 7 April 2009
at 2:50 PM
saya respon dan salut terhadap bapak, tapi kalo ditilik sekarang itu banyak unsur politisnya ( para pejabat yang diatas )di setiap PPD, padahal kita yang di sekolah gak tau apa2 hanya jalankan tugas, saya juga nggak kepingin orang hanya kaya duit aja bisa semaunya/seenaknya sendiri.
Bravo Pendidikan di Indonesia smoga makin maju/baik aja, tidak dicampur aduk dengan politik
Terima kasih komentarnya Mas Pram
Salam dari Papua,
Ardy
Oleh: denpram on 13 April 2009
at 8:41 PM
Wah.. Saya sebagai murid SMP N 21 turut kecewa dengan adanya jalur khusus.
Berarti yang bisa sekolah hanya murid2 ‘ berduit ‘ dong pak ?
Bagaimana dengan target kelulusan UN nanti, apabila murid yang melalui jalur khusus itu tidak sanggup menjalankannya ?
Mohon Balasannya… Terimakasih…
Jika sekolah didirikan hanya untuk yang “berduit” dan hanya untuk yang pinter……..betapa banyak warga bangsa kita yang terus termarginalisasikan…….terpinggirkan. Apakah itu perbuatan adil ? Betapa banyak anak bangsa yang jauh di bawah standar tertentu secara intelektual dan tidak dapat diterima di sekolah terus terlantar……apakah pendidikan hanya buat yang “kaya” dan pinter saja ? …… Marilah kita ber”teriak” Education for all !!! ……. and Justice for all too !
Ardy
Oleh: nabila on 24 April 2009
at 3:06 PM
gak salah kalo pak naryo “matre”. wajar kok. toh sekolahannya bagus kayak gitu.
Semua orang tahu kog…..sekolah itu (SMPN 21 Semarang) dibangun dengan uang negara……uang negara dari pajak rakyat…..pajak pendapatan saya pribadi untuk negara ini dalam setahun Rp 12.000.000,- lebih……mau buktinya? (ada NPWP) itu belum ditambah pajak tanah dan kendaraan. Saya rela memberikan pajak itu untuk negara saya…..tetapi apa yang telah negara berikan buat rakyatnya ?
Salam,
Ardy
Oleh: nindyakirana on 28 April 2009
at 10:41 AM
TUHAN ITU ADIL (ada yang bilang Tuhan tidak adil kah?)Apa yang sudah kita kerjakan bakal dibales di alam baka. Biarkanlah !
Tuhan gak pernah tidur.
Betul Mbak Nindya ….. Terima kasih …
Saya membahas hal dunia (manusia dari sisi sosial dan tidak dalam kerangka mengkaitkannya dengan religius). Secara pribadi saya menghindari membawa pembicaraan dikaitkan dengan agama ataupun Tuhan / Allah. Bagi saya religius adalah hubungan transenden pribadi dengan Nya.
Salam.
Oleh: nindyakirana on 19 Mei 2009
at 10:35 AM
sekolahan saya sudah besar, tapi kok biaya masuknya mahal ya.
Tanyakan pada rumput yang bergoyang……
Ardy
Oleh: riyaldi on 7 Mei 2009
at 12:12 PM
yang dibayar sesuai yang didapetin kok, pak .. gak rugi lagi sekolah di SMP N 21 ..
Neng Lizha,
Yang dipermasalahkan bukan mutu sekolah dan juga bukan apa yang didapetin ketika belajar di SMPN. 21. Siapa juga yang bilang rugi bersekolah di sekolah bermutu? Fokus permasalahan hendaknya tidak kita belokkan, tetapi konsisten tentang “pungli resmi” itu.
Terima kasih.
Oleh: lizha on 17 Mei 2009
at 2:00 PM
Terkait dengan karakter guru yang berkarat saya kurang setuju pak. If you don’t learn you dont change, if you don’t change you die….. dlm rangka pengembangan frofesi pak..he…..
Waduh, istilah “berkarat” berat memahaminya (multi tafsir dan cenderung ke negatif ? mohon koreksi jika keliru) Change = Perubahan ….thema yang lagi tren. Obama, Yudhoyono dan capres lainnya “membawa” thema “change” …. memang yang abadi di muka bumi ini adalah perubahan. Tidak ada yang abadi di muka bumi ini selain perubahan. “Berkarat” pada tanggapan sebelumnya mungkin diletakkan makna bahwa lebih sulit merubah orang yang sudah dewasa dari pada merubah anak = siswa. Namun marilah kita tetap mencoba berubah menjadi lebih maju, baik dan positif Pak !! Kritik pedas juga kita maksudkan agar ada perubahan. Medurut DR. Arif Budiman kritik tidak harus memberi solusi. Biarkan yang dikritik merubah dirinya sendiri dan mencari cara merubah yang menurutnya baik. He..he..he….
Terima kasih kritik Bapak ya.
Salam.
Oleh: penjasorkes21 on 27 Mei 2009
at 9:37 PM
Slam bwt Smuana,.,.PK,BU sya mw ngasih komen:
bwt SMP 21 yg sya cintai n sya banggakan.,sMp 21 itu kn byk orng2 yg bilang klo Smp 21 itu skolah yg MaHal, Ad jg yg blang klo murid2nya pintar2 sprt saya hehe,..,
Tapi sya jga trut prihatin ma siswa yg ingin msk dSMP 21 tdk bsa,krn soal biaya nya.,
n’ satu Pertanyaan dri sya:
apakah SMP 21 mberi bea siswa bgi murid yg tdk mampu/murid yg berprestasi.,.,.
Tolong dblez,.,.!!!
Terima kasih atas koment Anda Mas Fikri. Semoga keadilan distributif negri ini terwujud.
Oleh: Fikrie dezco 8e cayo on 4 Juni 2009
at 9:10 PM
SYA akan mbri Sbuah PUISI Bwt SMP Ku TErcinta
tpi dgn BHsa France,YG BSA BHS.FRANCE psti tw,.
Si Emporte
“Si la poussiere emporte
tes reves de lumire je
serai ta lune ton repere
et si le soleil nous brule
je prierai qui tu voudras
pour que tombe la neigi au sahara.
Wah boleh juga ….. tapi saya nggak paham bahasa Perancis …..
Semoga suatu saat saya bisa juga.
Oleh: Fikrie dezco 8e cayo on 4 Juni 2009
at 9:13 PM
PINGIN PINTAR MAKA NYA BELAJAR
BHSA.FRANCE
Jgn hnya bsa Bhs.Inggris tp,jga bsa bhsa yg lain,.,
HEHEhe.,.,.,.
q brhrap dSmp 21 ada ekstra Bhs.Japan/France
ya.,.,.,,.,.
ARIGATO.,.,.!!!
Sanvalsaire,.,.,!!!
Thank’s,.,!!!
Oleh: Fikri dezco 8E cayo on 5 Juni 2009
at 2:38 PM
N’bwt Adik-adik klasku q, yg baru mlaksanakn Tes PPD RSBI,Sya sbgai Kakak klas cma bsa mengtkan Smoga sukses mngerjakan nya,.,!!
Sya jga mengucapkn bela sungkawan atas meninggal nya BaPk dri PK.MAd Buchori smoga arwah beliau dtrma diSISI nya,AMIEN,,.
Dan sya mnta doanya,.Ya.,.,
BSk sNenkan sya Tes knaikan klas smoga sja sya bsa naik kls dgn nlai yg baik.,.,AMIEN.,.,!!
n’ yg ngurus ini spa ya,.????
Terima kasih.,.Assalamu’alaikum,.,!!!
Oleh: Fikri dezco 8E cayo on 5 Juni 2009
at 3:07 PM
Wah,klo andai kta d Dunia penddkan klo dcmpur adukan oleh politik boleh jga tu…
Becouse,klo dunia pnddkan dcmpur adukan oleh pölitik kya Es Campur..Hehe
bsa jdi mnambh ilmu bwt murid2 Smp 21..Atau kelak besuk mjdi seorang Politikus/bahkan mjdi PRESIDEN sprti impian q sjak kecil..So itu smua kan memprlukan ilmu ttng Pölitk kan…??!!Sprti kta dosen France bilang”pouree leu beare kaye”(belajr sjak kecil akan mdah dpahami dri pda kelak bsk”. IYA Kan….!!
Oleh: Fikrie dezco 8E cayo on 7 Juni 2009
at 6:31 AM
Wah btUl bgt Toh…
Sya sTuJu…!
Oleh: Chairiza Dewi N. on 9 Juli 2009
at 9:33 PM
saya tentunya miris melihat hal ini ,,
kenapa harus ada jalur khusus segala ??
smp n 21 adalah sekolah yg terkenal di Semarang dan tentunya sangat memalukan melihat hal ini.
Oleh: wira satriyo utomo on 28 Juli 2009
at 5:13 PM
sekolah mahal kok bangga emang duit dari korupsi,makanya gak eman2 keluarkan uang segitu banyak untuk sekolah.ada rampok pakai safari,kadang pake jas dan pake dasi, rampok gedean tidak ditangkap,krena RT RW Lurah ngeri/takut tdak dapat komisi lagi.sialan memang sialan,kalo terus terusan kayak begini tak tahu apa jadinya.
Yah… Mas Sandi.
Semoga di tahun ini dan di tahun mendatang sekolah gratis benar-benar tanpa pungutan lagi. Apalagi anggaran pendidikan dari APBN sudah mencapai 20% …….SLTP juga bagian dari pendidikan dasar dan digratiskan……he…he…..
Salam dari penulis.
Oleh: SANDI YUDHISTIRA on 20 Oktober 2009
at 9:15 AM
Apa gak ingat firman tuhan Allah surat 17 ayat 16, kalo mengaku muslim pasti bisa cari itu ayat, makanya Indonesia banyak terjadi gempa,la orangnya suka menghamburkan uang bermewah2an memubadzirkan harta, klo aku jadi guru smp 21 apalagi kepala sekolahnya wah bisa beli mobil alphard biar keren
Hmmm …..
Semoga dunia ini lekas berubah kearah yang baik sesuai ridhlo Allah.
Amin.
Oleh: SANDI YUDHISTIRA on 20 Oktober 2009
at 9:20 AM
Kok ngmong nya kyak gtu….
AQ aj sbgai murid SMPN 21 tenang2 aj…
walaupun bayar nya mahal,tpi kan kualitas bljar nya bermutu brtraf Internasional…Jgn d banding2′in sma SMP kampung…klo SMP di kmpung kan GRatis….
Tpi ini kan DI kota Semrng..N” SMPN 21 SEMARANG kan udah RSBI(Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional…) jdi kan Gak Gratis….
emnG gak LHat IKLan NYa Thoo…
Kan ada TUlisan NYa “KECUALI SBI DAN RSBI” bayar…kan udah INTERNASIONAL” beda sma SMP d kmpung……..
TRimaksih……
Mas Vikri,
kata INTERNASIONAL yang melekat pada sebuah sekolah kini “menjadi” bencmark luar biasa. Kata itu seakan “melegitimasikan” bahwa sekolah itu benar-benar INTERNASIONAL standard……Apa ya standard ataupun ukurannya sehingga “boleh” mahal ? Atau standard-standard-an yang didesign sendiri dan merasa sudah sebagai meng-INTERNASIONAL. Pendek kata kita masih mencari bentuk standard minimal sehingga sebuah sekolah dapat dikategorikan sebagai sekolah berstandard tersebut. APBN kita yang sudah 20% untuk pendidikan semestinya sudah bisa meniru Jepang. Di sana sekolah yang paling berkwalitaspun untuk pendidikan dasar (SD-SMP) hanya bayar 90 yen. (kurang lebih Rp 10.000) Alias gratis bagi negara dengan perkapita sangat tinggi…………
Salam.
Oleh: Just Vikri on 22 Oktober 2009
at 7:47 PM
hellow. …………
Oleh: indra on 27 Oktober 2009
at 4:43 PM
wah wah, jangan salah diartikan
ini saya murid RSBI kelas 8
sekarang udah ganti kepsek nya jadi pak Yadi , bukan pak Naryo lagi
Ya Mas Hndika ….
Tulisan itu juga bukan untuk masa sekarang……
Tulisan itu gambaran penulis mengenai sekolah tersebut yang ada saat ditulis.
Terima kasih.
Salam.
Oleh: handika danry k. on 1 Desember 2009
at 8:31 PM
kalau boleh tau, nemnya di SMP N 21 ini berapa ya???
Karena saya kalau lulus mau masuk sana…
Wah, langsng aja Mbak ke sekolahannya …..
Oleh: Beatha Aminah on 9 Desember 2009
at 12:12 PM
Sy jd pnsrn stlh melihat artikel ini, sy jg (dulunya) salah 1 murid smp n21 skrg alhamdulillah saya diterima di stei itb bandung. Pribadi, sy sgt menghargai waktu2 sy saat d sn dulu, soal jalur khusus yg mahal hrs dilihat dr inputnya dl, kl inputnya koclo ya sama aja. Yg ptg kemauan Anda (casis) untuk berubah saat menjd almamater smp n 21 semarang.Maju terus espedusa!
Dari berbagai informasi sekarang kepala sekolahnya sudah ganti kog Mbak.
Dan semoga sudah banyak berubah.
Salam.
Oleh: Rifma dwika octora on 9 Desember 2009
at 10:42 PM
waduhhh…. ternyata desas desus nya bner tho ??
hlah gag ada bdana juga , toh yo fasilitase podo … lagi pula sing sekolah mengko kan yo bocahe, sing adaptasi mbek mapel e RSBI yo bocahe dudu duit e ortu !!
@kep.sek (Bapak Suyadi) : pak, mbok ngajar kelasku pak, kelas 9A . terus yang mll jalur khusus itu ada tindakan2 tersendiri pak?
Oleh: destri lisyam prasanti on 18 Desember 2009
at 9:40 AM