12 Nopember 856, prasasti Wantil yang sering disebut juga sebagai prasasti SIWAGREHA, diteguhkan penulisnya Rakai Pikatan. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha ( baca: Civa Graha = Graha berarti rumah = Rumah untuk Dewa Civa), yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa. Ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut identik dengan Candi Siwa, salah satu candi
utama pada komplek Candi Prambanan. Jika identifikasi di atas benar maka dapat disimpulkan bahwa bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan raja dari kerajaan Mataram Hindu yang pernah berkuasa di wilayah Jawa Tengah ribuan tahun yang silam. Sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.
Banyak hal dan pertanyaan yang muncul serta menarik dari candi Prambanan. Benarkah ia dibangun oleh Rakai Pikatan?, Berapa lama masa pembangunannya?, Dari manakah batu-batu diambil untuk membangun candi sebesar itu di kala itu pula?, Bagaimana batu (linggayoni) seberat lebih dari 2 ton diletakkan di pucuk candi Civa setinggi 47 meter? Untuk maksud dan keperluan apa candi itu didirikan? Mengapa (siapa=sutra grahim) mengambil bentuk tatanan candi yang sedemikian rupa? Budaya masyarakat seperti apa yang mendukung penyembahan terhadap Civa itu? Apa arti/makna lingga-yoni symbol yang mereka letakkan banyak pada kompleks candi itu? Sederetan pertanyaan menyerbu menghantui pikiranku meminta untuk mendapat jawaban. Belum lagi pertanyaan deskripsi yang meminta penjelasan arti dan makna yang disymbolkan pada pahatan relief di badan candi. 72 jepretan kamera kami mengabadikan ‘anggle’ sudut-sudut candi sebagai pengingat kenangan masuk ke masa kekuasaan Rakai Pikatan.
Sore hari diakhir bulan Juni itu, beberapa bangunan candi di komplek candi Prambanan ditutup. Wisatawan asing maupun domestic ‘dibatasi’ dan tidak dapat memasuki candi Brahma dan candi induknya candi Civa karena dalam perbaikan. Sekeliling ke dua candi dipagari besi. Gempa Jogja-Klaten beberapa tahun silam cukup memporak porandakan beberapa bagian bangunan. Struktur candi bergeser dan perlu perhatian sangat serius dari pemerintah untuk memperbaikinya. Prambanan adalah salah satu dari “World Heritage” bernomor 642.
Jika kita memasuki candi Civa dari arah utara, di bilik utamanya dijumpai patung perwujudan Dewi Durga Sura Mahesa Mardhani atau dewi Civa Mahadewi, yang oleh penduduk setempat dinamai patung Roro Jonggrang.
Menurut legenda, Roro Jonggrang adalah putri Ratu Boko yang ingin dinikahi oleh
Bandung Bondowoso, seorang lelaki perkasa Putra Raja Pengging. Roro Jonggrang yang tidak mencintai Bandung, berusaha menolak pinangan ini dengan mengajukan syarat agar dibuatkan seribu candi dalam satu malam.
Dengan kekuatan supranatural, Bandung menyanggupi syarat tersebut dan hampir berhasil menyelesaikan tugasnya. Roro Jonggrang yang panik, berusaha menggagalkan keberhasilan ini dengan mengerahkan para wanita desa untuk membakar jerami dan menumbuk padi sehingga suasananya berubah seperti pagi hari.
Mengira tenggat waktunya telah berakhir, semua kekuatan supranatural yang membantu Bandung berlarian. Tak ayal, pekerjaan yang nyaris selesai akhirnya terbengkalai. Kegagalan ini tentu saja membuat Bandung murka. Dan karena tidak dapat menahan amarahnya, Bandung mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah patung.
Di bilik yang sama masih di candi Civa, secara berurutan adalah patung Civa Mahadewa, patung Ganeca dan patung Civa Mahaguru / Mahayogi. Semua patung dipahatkan posisi berdiri kecuali patung Ganeca yang berposisi duduk. Berdasarkan struktur, ada tiga candi induk di tengah komplek candi Prambanan. Jika dilihat dari
candi Nandi (wahana Civa) maka berhadapan tepat di tengah yang paling besar dan paling tinggi adalah candi Civa. Disebelah kananya candi Visnu dan di kiri candi Civa
ada candi Brahma. Ketiga candi utama itu melambangkan Tri Murti kesatuan dewa-dewa tertinggi dalam kepercayaan Hinduism. Berhadapan dengan candi Visnu adalah candi Garuda (wahana Visnu). Terdapat patung dewa Visnu dalam posisi berdiri di tengah bilik candi Visnu. Demikian halnya di depan candi Brahma terdapat candi Angsa (wahana Brahma). Dan di tengah di dalam bilik candi Brahma berdiri patung dewa Brahma.
Candi apit, bangunan candi yang mengapit candi utama di utara dan selatan yang saling berhadapan, serta candi-candi kecil yang mengitarinya kini berserakan mengitari komplek bangunan utama. Alangkah indah dan cantiknya jika keseluruhan candi-candi itu kembali didirikan (direnovasi) hinga seperti saat usai dibangun Rakai Pikatan dan penerusnya. Dunia akan tertegun mengagumi
mahakarya tak tertandingi para leluhur bangsa ini. Roh-roh leluhur pembangun candipun akan tersenyum di alam bakanya, demikian jauh khayalku menggapai masa-masa lalu itu.





Wah keluarga ideal niy, sang Bapak dengan tekun dan sabar menganalkan warisan bangsa.
Salam kenal Pak Ardy.
Terima kasih sudi mampir di web saya yang baru belajar Mas.
Salam dan tetap semangat
Oleh: agusampurno on 5 Agustus 2008
at 12:59 AM
hi pak guru.. ni Regi !!
:)
Hi juga !
Mana Web blog Mu ….. ?
P’ Guru tunggu loh !
Selamat berkarya ……… tetap terus maju ya !
Ardy
Oleh: impact23 on 12 Agustus 2008
at 1:38 AM
Pak Ardy,
Mohon izin saya pakai pic Prambanan dari blog Bapak.
Foto yang Bapak ambil, angle nya sangat menarik.
Bila diizinkan, saya taruh dalam kalender kantor yang saya buat sendiri. Untuk dibagikan dikalangan sendiri Pak. Sebagian dari fotonya saya ambil dari internet, sebagian lagi foto tanaman yang saya buat sendiri.
Salam,
Diar Tambunan
Pak Tambunan,
Silahkan Bapak menggunakannya.
Terima kasih atas apresiasi Bapak.
Salam hormat,
Ardy
Oleh: Diar on 23 Oktober 2008
at 10:15 AM
duH ga kerasa udah 2 minggu aQ stuDy TouR di Prambanan
pengalaman ga terlupakan waktu study tour di jogja…
pengalaman yg sungguh tx terlupakan….
study touR yg begitu singkat
Tiara,
Gimana Pambanan menurut mu ?
Alangkah indahnya bangunan kuno itu jika masih utuh ya ?
Jika pemerintah serius, candi itu bisa direnovasi lagi sebagaimana keadaan semula.
Thanks
Ardy
Oleh: TiaRa on 2 November 2008
at 1:00 PM
Pak apakah boleh saya pakai gambar prambanan bapak untk di majalah internal warga phillipines di Indonesia, saya akan memasukan nama bapak sebagai credit title foto tsb.
Mas Bharata
Silahkan. Terima kasih atas apresiasi anda.
Selamat berkreasi,
Ardy
Oleh: bharata on 6 Desember 2008
at 5:30 PM
wah bagus ya
Ma kasih atas kunjungan anda Eka Aulia ….
Salam,
Ardy
Oleh: eka aulia on 15 Januari 2009
at 3:32 PM
Sukses selalu buat mas Ardy,smga bangsa kita selalu menjadi bangsa yg besar, yg senantiasa menghargai karya nenek moyangnya…Sukses selalu mas (hary-kaltim)
Terima kasih atas kunjungannya Mas Hary,
Benar Mas, jangan kita berhenti “menyadarkan” yang muda untuk lebih menghargai karya agung leluhur bangsa agar lebih memberi arti dalam hidup.
Ardy
Oleh: Rhezy.Hc on 10 Februari 2009
at 1:27 PM
wah jadi pingin melihat Kluarga yang semangat mengenal peninggalan sejarah kita …salam kenal
Oleh: abdulloh soehono on 17 Agustus 2009
at 9:04 AM
aqhu tuh mw nany tentang arti pose ptng siwa mslny arti 8tanganny dll blh gug ??
Boleh Nia, tapi saya masih bingung …. apanya yang ditanyakan ?
Oleh: nIa on 22 Agustus 2009
at 11:15 AM
Salut untuk Pa Ardy yg mengenalkan sejarah budaya bangsa kepda keluarganya. Bapak jg Bisa berbagi pengalaman di http://www.tourthewonder.com Sukses Pak…terimakasih.
Oleh: Arief Ginanjar on 1 September 2009
at 10:04 AM